https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/issue/feed Jurnal Biomedik:JBM 2022-04-30T20:55:29+08:00 Sonny John Ruddy Kalangi sonnykalangi05@gmail.com Open Journal Systems https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/view/37321 Pengaruh Pemberian Ekstrak Propolis (HDI PropoelixTM) terhadap Rasio Albumin Kreatinin Urin Pasien DM Tipe II 2022-04-30T20:55:29+08:00 Vera D. Tombokan veradt0202@gmail.com Maxi M. L. Moleong veradt0202@gmail.com Ageng I. Pratiwi veradt0202@gmail.com <p class="ABSTRAK">Abstract: Examination of urine albumin to creatinine ratio can be performed to detect early signs of diabetic nephropathy, and this examination is easier to perform. The reference value used is the ratio of albumin to creatinine &gt; 30 mg/g. Researches related to propolis and its benefits have been carried out for a long time. HDI Propoelix is  a type of propolis extract using the CMCE (Continuous Multi-stage Countercurrent Extraction) method produced by PT Harmoni Dinamik Indonesia. HDI Propoelix has 7 bioactive components: CAPE (Caffeic Acid Phenethyl Ester), Narigenin, Chrysin, Galangin, Cinnamic Acid, Pinocembrin, Apigenin. These bioactive components amplify the health benefits of HDI Propoelix because these bioactive components are high in antioxidants, as well as have antidiabetic and nephroprotective properties. This study is a laboratory experimental study with a pretest-posttest with control group design, with 60 respondents who met the inclusion criteria. This study aimed to examine the effect of giving Propolis Extract (Propoelix) on the Urine Albumin to Creatinine Ratio in type II DM patients who have shown signs of diabetic nephropathy. The results obtained are that there is a significant effect in the experimental group given HDI Propoelix at a dose of 2x 200 mg for 90 days where there is a decrease in the urine albumin to creatinine ratio which was not found in the control group who was not given Propoelix.</p><p class="KEYWORDS"><strong>Keywords</strong>: diabetic nephropathy; urine albumin to creatinin ratio; propoolis ekstrak (propoelix) <strong></strong></p><p class="ABSTRAK"><strong>Abstrak: </strong>Pemeriksaan rasio albumin kreatinin urine sewaktu dapat dilakukan untuk mendeteksi tanda awal nefropati diabetik, dan pemeriksaan ini lebih mudah dilakukan. Nilai rujukan yang dipakai adalah rasio albumin kreatinin &gt; 30 mg/g. Penelitian-penelitian terkait propolis dan manfaatnya telah dilakukan sejak lama. HDI Propoelix<sup>TM</sup> adalah salah satu jenis propolis Ekstrak metode CMCE (Continouis Multi-stage Countercurrent Extaction) yang di produksi oleh PT Harmoni Dinamik Indonesia. HDI Propoelix<sup>TM</sup> memiliki komponen bioaktif: CAPE (Caffeic Acid Phenethyl Ester), Narigenin, Chrysin, Galangin, Cinnamic Acid, Pinocembrin, Apigenin. Komponen bioaktif ini memperkuat manfaat kesehatan HDI Propoelix karena komponen bioaktif ini memiliki antioksidan yang tinggi ,dan bersifat antidiabetik dan nefroprotektor. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan rancangan penelitian <em>pretest-posttest </em>dengan kelompok kontrol, terhadap 60 responden yang memenuhi kriteria inklusi Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian Propolis Ekstrak (Propoelix) terhadap Rasio Albumin Kreatinin Urin pada pasien DM tipe II yang sudah menunjukkan tanda nefropati diabetik. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu terdapat pengaruh yang signifikan pada kelompok eksperimen yang diberikan HDI Propoelix dengan dosis 2x 200 mg selama 90 hari dimana terdapat penurunan rasio albumin kreatinin urin yang tidak didapatkan pada kelompok kontrol yang tidak di berikan Propoelix. <strong></strong></p><strong>Kata kunci</strong>: nefropati diabetik; rasio albumin kreatinin urine; propolis ekstrak (propoelix) 2022-03-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Biomedik : JBM https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/view/34083 Evaluasi Shear Wave Elastography, Fibroscan dan Kecepatan Aliran Vena Porta pada Pasien Non-Alcoholic Fatty Liver Disease 2022-04-30T20:55:29+08:00 Yullyftyani Gunawan yullygunawan87@gmail.com Bachtiar Murtala yullygunawan87@gmail.com Sri Asriyani yullygunawan87@gmail.com <p class="ABSTRAK">Absract: This research aims to investigate the congruity between the <em>Shear Wave Elastography</em>, Fibroscan and changes in the portal vein flow velocity in non-alcoholic fatty liver disease patients.The research used was a cross-sectional study method. The research was conducted in the Radiology Section of Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar from July to December 2020. The research populations were all patients with the clinical non-alcoholic fatty liver and fulfilled the inclusive and exclusive criteria. On the research samples, the <em>Shear Wave Elastography</em> and hepatic hemodynamics were examined using transabdominal ultrasonography, continued by determining the fibrosis degree based on Transient Elastography. Data were analyzed statistically through the Spearman’s correlation test, it was stated congruent if the P value was &lt;0.05.The research involved 32 people, with the gender of 19 males (59.4%) with the range of 46-55 years old (31.3%) of the non-alcoholic fatty liver patients. Based on bivariate analysis, the research result indicates that there is no correlation between mean portal vein velocity and degree of fibrosis with Fibroscan and <em>Shear Wave Elastography</em>. The fibrosis degree with <em>Shear Wave Elastography</em> has a strong correlation (p = 0.001, r = 0.672) with the fibrosis degree based on the Fibroscan.</p><p class="ABSTRAK">Key words: Non-alcoholic fatty liver; Shear Wave Elastography; Transient Elastography</p><p class="ABSTRAK"> </p><p class="ABSTRAK">Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengetahui kesesuaian antara <em>Shear Wave Elastography</em>, Fibroscan dan perubahan kecepatan aliran vena porta pada pasien <em>non-alcoholic fatty liver disease.</em> Metode penelitian yang digunakan adalah kajian potong lintang. Penelitian dilaksanakan di Bagian Radiologi RS Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar pada Juli sampai dengan Desember 2020. Populasi penelitian ini adalah semua pasien dengan klinis <em>non-alcoholic fatty liver</em> dan memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Pada sampel penelitian ini dilakukan pemeriksaan <em>Shear Wave Elastography</em> dan hemodinamik hepar dengan ultrasonografi transabdominal, dilanjutkan dengan penentuan derajat fibrosis berdasarkan Transient Elastography. Data dianalisis secara statistik melalui uji korelasi Spearman dikatakan sesuai jika nilai P&lt;0,05. Penelitian ini melibatkan sebanyak 32 orang, dengan jenis kelamin laki-laki 19 (59,4%) orang dengan rentang usia terbanyak 46-55 (31,3%) tahun pada pasien <em>non-alcoholic fatty liver</em>. Hasil penelitian menunjukkan tidak didapatkan korelasi antara mean kecepatan vena porta dengan derajat fibrosis dengan Fibroscan dan <em>Shear Wave Elastography</em>. Pada derajat fibrosis dengan <em>Shear Wave Elastography</em> mempunyai korelasi kuat (p=0,001, r=0,672) dengan derajat fibrosis berdasarkan Fibroscan.</p><p class="ABSTRAK">Kata kunci: Non-alcoholic fatty liver; Shear Wave Elastography; Transient Elastography</p> 2022-03-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2022 JURNAL BIOMEDIK : JBM https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/view/35337 Efek Perbedaan Intensitas Latihan Resistance Elastic Band terhadap Indeks Massa Tubuh (IMT) 2022-04-30T20:55:29+08:00 Utami S. Lestari utamisasmitalestari@unsrat.ac.id Elyana Asnar utamisasmitalestari@unsrat.ac.id Suhartati Suhartati utamisasmitalestari@unsrat.ac.id <p class="ABSTRAK">Abstract: Overweight can cause various degenerative diseases that must be controlled by doing physical activity. Resistance exercise is a type of physical activity that can increase the calories burned during fat burning so that it can affect Body Mass Index (BMI). The aim of this study is to analyze the effect of intensity of elastic band resistance exercise on BMI. This study was pretest-posttest control group design with 40 adult women. The subjects were divided into four treatments - low intensity, moderate intensity, high intensity, and control. Resistance exercise consists of three types of exercise for upper extremities and three types of exercise for lower extremities, each set consisting of three sets, 12 repetitions, and one minute of rest interval between exercises given three times every week for four weeks BMI calculation is done by dividing body weight in kilograms and height in meters squared before and after the intervention. Low intensity resistance exercise showed an increase in BMI (p=0.62), moderate intensity resistance exercise showed a decrease in BMI (p=0.24) and high intensity resistance exercise showed a decrease in BMI (p=0.04). Medium intensity and high intensity elastic band resistance exercises are effective in improving BMI in adult women.</p><p class="KEYWORDS">Keywords: Body Mass Index; Exercise Intensity; Resistance Exercise</p><p class="ABSTRAK">Abstrak:  <em>Overweight</em> dapat menyebabkan berbagai penyakit degeneratif sehingga harus dikontrol dengan melakukan aktivitas fisik. Latihan <em>resistance</em> adalah jenis aktivitas fisik yang dapat meningkatkan kalori yang dibakar saat pembakaran lemak berlangsung sehingga dapat berpengaruh terhadap Indeks Massa Tubuh (IMT). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek perbedaan intensitas latihan <em>resistance elastic band</em> terhadap IMT. Desain penelitian adalah <em>pretest-posttest control group design</em> dengan total 40 subjek wanita. Subjek dibagi ke dalam empat kelompok yaitu latihan <em>resistance</em> intensitas rendah, intensitas sedang, intensitas tinggi, dan kontrol. Latihan <em>resistance </em>terdiri dari tiga jenis latihan untuk ekstremitas atas dan tiga jenis latihan untuk ekstremitas bawah yang masing-masing terdiri dari tiga set, 12 repetisi dan satu menit interval istirahat yang diberikan sebanyak tiga kali setiap minggu selama empat minggu. Perhitungan IMT dilakukan dengan membagi berat badan dalam satuan kilogram dan tinggi badan dalam satuan meter kuadrat sebelum dan setelah intervensi. Latihan <em>resistance</em> intensitas rendah menunjukkan peningkatan IMT (p=0,62), latihan <em>resistance</em> intensitas sedang menunjukkan penurunan IMT (p=0,24) dan latihan <em>resistance</em> intensitas tinggi menunjukkan penurunan IMT (p=0,04). Latihan <em>resistance elastic band</em> intensitas sedang dan intensitas tinggi efektif memperbaiki IMT pada wanita.</p><p class="KEYWORDS">Kata Kunci: Indeks Massa Tubuh; Intensitas Latihan; Latihan Daya Tahan</p> 2022-03-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Biomedik https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/view/34137 Kesesuaian computed tomography scan-base scoring system dengan hasil sitologi cairan pleura dalam membedakan efusi pleura maligna dan benigna 2022-04-30T20:55:29+08:00 Herdi Arnawan herdy_dr@yahoo.com Nikmatia Latief herdy_dr@yahoo.com Muhammad Ilyas herdy_dr@yahoo.com <p class="ABSTRAK">Abstract: The research aims at assessing the congruity <em>CT scan-base scoring system</em> according to Porcel and the pleural fluid cytology result in distinguishing the malignant from benign pleural effusions. The research used the diagnostic test by assessing the congruity <em>CT scan-base scoring system</em> according to Porcel with pleural fluid cytology result in distinguishing the malignant from benign pleural effusions through the <em>Chi-square test</em> and assessing the sensitivity and specificity of the pleural effusion score. The research result indicates that there are 71 samples with the pleural effusion undergoing the examinations of the chest MSCT scan and pleural fluid cytology in General Central Hospital dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, from September 2019 to August 2020, in which there are 26 samples with the malignant pleural effusion and 45 samples with benign pleural effusion. There is significant correlation between <em>CT scan-base scoring system</em> according to Porcel and the pleural fluid cytology result, in which the score &lt; 7 indicates the benign pleural effusion, while the score ≥ 7 indicates the malignant pleural effusion, with the sensitivity of 88.4% (73.1 – 88.5 %) and specificity of 75.5% (73.1 – 88.5 %). The positive predictive value 67.6%, negative predictive value is 91.8%.</p><p class="KEYWORD">Keywords: pleural effusion; malignant pleural effusion; CT scan-base scoring system; pleural metastasis</p><p class="ABSTRAK">Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesesuaian <em>CT scan-base scoring system</em> menurut Porcel dengan hasil sitologi cairan pleura dalam membedakan efusi pleura maligna dan benigna. Penelitian ini merupakan uji diagnostic, dengan menilai kesesuaian <em>CT scan base scoring system </em>menurut Porcel dengan hasil sitology cairan pleura dalam membedakan EPM dan EPB melalui <em>Chi Sqaretest</em> serta menilai sensitivitas dan spesifisitas dari skor efusi pleura. Hasil penelitian menunjukan terdapat 71 sampel dengan efusi pleura yang menjalani pemeriksaan MSCT-<em>scan</em> thorax dan sitology cairan pleura di RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, periode September 2019 sampai Agustus 2020 yang masuk dalam penelitian kami, dimana terdapat 26 sampel EPM dan 45 sampel EPB. Terdapat hubungan bermakna antara <em>CT scan base scoring system</em> menurut Porcel dengan hasil sitology cairan pleura, dengan skor &lt; 7, yang menunjukan EPB, sedangkan skor ≥ 7 yang menunjukan EPM, dengan sensitivitas 88.4% (73.1 – 88.5 %) dan spesifisitas 75.5% (73.1 – 88.5 %); nilai prediksi positif 67.6%; nilai prediksi negatif 91.8%.</p>Kata kunci: efusi pleura; efusi pleura maligna; <em>CT scan base scoring system</em>; metastasis pleura. 2022-03-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2022 JURNAL BIOMEDIK : JBM https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/view/37283 Pengaruh Meditasi Kesadaran (Mindfulness Meditation) dengan Metode Pendekatan Cognitive Trancendence Strategies terhadap Perubahan Perilaku Merokok 2022-04-30T20:55:29+08:00 Charles Mengga challemengga@gmail.com Taufiq Pasiak challemengga@gmail.com Josef Tuda challemengga@gmail.com <p class="ABSTRAK"><strong>Abstrak: </strong>Smoking behavior is still a health problem in Indonesia. Nicotine dependence which stimulates the release of dopamine in the brain is the reason it is difficult to quit smoking. The awareness factor plays an important role in behavior change. Consciousness is the result of the work of the ascending reticular activating system of the brain. Neuroplasticity is the brain's ability to change and repair brain structures and tissues. Cognitive Transcendence Strategies (CTS) is a strategy that focuses on cognitive and spiritual abilities to optimize willpower, resilience and self-control. Mindfulness meditation aims to eliminate self-ego so that a conscious lifestyle is obtained. This study aims to determine the effect of mindfulness meditation with the CTS approach method on smoking behavior. This study is a quantitative experimental Quasi Experimental Nonequivalent Control Design Group of two groups and calculates the difference in the mean values in each group. The number of research subjects was 40 respondents. The results of this study indicate that Mindfulness Meditation with the CTS approach has an effect on smoking behavior.</p><p class="KEYWORDS"><strong>Keywords:</strong> Mindfulness Meditation; CTS; Smoking Behavior</p><p class="ABSTRAK"><strong>Abstrak: </strong>Perilaku merokok masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Ketergantungan nikotin yang menstimulus pelepasan dopamin dalam otak menjadi alasan sulitnya berhenti merokok. Faktor kesadaran berperan penting dalam perubahan perilaku. Kesadaran merupakan hasil kerja bagian otak <em>Ascending reticular activating system</em>. Neuroplastisitas adalah kemampuan otak untuk mengubah dan memperbaiki struktur dan jaringan otak. <em>Cognitive Transcendence Strategies (CTS) </em>merupakan strategi yang berpusat pada kemampuan kognitif dan spiritual untuk mengoptimalkan <em>willpower</em>, <em>resilience</em> dan <em>self control. </em>Meditasi kesadaran bertujuan untuk menghilangkan ego diri sehingga didapatkan pola hidup yang penuh kesadaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh meditasi kesadaran dengan metode pendekatan<em> CTS </em>terhadap perilaku merokok. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif eksperimental <em>Quasi Experimental Nonequivalent Control Desain Group </em>dari dua kelompok dan menghitung perbedaan nilai mean pada masing-masing kelompok. Jumlah subjek penelitian 40 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Meditasi Kesadaran dengan metode pendekatan <em>CTS </em>berpengaruh terhadap perilaku merokok.</p><p class="KEYWORDS"><strong>Kata Kunci: </strong>Meditasi Kesadaran; CTS; Perilaku Merokok</p> 2022-03-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Biomedik : JBM https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/view/37490 Obesitas sebagai Faktor Risiko Rheumatoid Arthritis 2022-04-30T20:55:29+08:00 Velania R. O. Maniking velaniamaniking97@gmail.com Elvin C. Angmalisang velaniamaniking97@gmail.com Djon Wongkar velaniamaniking97@gmail.com <p class="ABSTRAK"><strong><span>Abstract</span></strong><span>: Obesity is excess fat in the body, which clinically has a relationship with body mass index (BMI) which is thought to be a risk factor for several musculoskeletal disorders such as rheumatoid arthritis (RA). The aim of this study is to determine obesity as a risk factor of RA. The study was conducted using a literature review method and the literature was taken from 1 database, Pubmed. The keywords used were Body Mass Index AND Obesity AND Rheumatoid Arthritis. The article search used the PICOS framework, and obtained 12 literatures. For the result, obesity as a significant risk factor for the development of RA. In<strong> Conclusion:</strong> In the study, it was found that obesity can be a risk of RA. </span></p><p class="KEYWORDS"><strong>Keywords</strong>: Body Mass Index; Obesity; Rheumatoid Arthritis</p><p class="ABSTRAK"><strong><span>Abstrak:</span></strong><span> Obesitas merupakan kelebihan lemak pada tubuh, yang secara klinis memiliki hubungan dengan indeks massa tubuh (IMT) yang diperkirakan dapat menjadi salah satu faktor risiko pada beberapa gangguan muskuloskeletal seperti rheumatoid arthritis (RA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui obesitas sebagai salah satu faktor risiko RA. Penelitian ini menggunakan metode <em>literature review</em> yang diambil dari 1 database, Pubmed. Kata kunci yang digunakan adalah <em>Body Mass Index AND Obesity AND Rheumatoid Arthritis.</em> Pencarian artikel digunakan PICOS <em>framework </em>dan didapatkan 12 literatur<em>. </em>Hasil yang didapatkan obesitas merupakan salah satu faktor risiko yang signifikan terjadinya perkembangan RA. Sebagai<strong> simpulan, </strong>penelitian ini menunjukkan bahwa obesitas dapat menjadi salah satu faktor risiko RA.</span></p><p class="KEYWORDS"><strong>Kata kunci</strong>: Indeks Massa Tubuh; Obesitas; Rheumatoid Arthritis</p> 2022-03-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Biomedik : JBM https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/view/37562 Efek Olahraga terhadap Perbaikan Gejala Rinitis Alergi 2022-04-30T20:55:29+08:00 Hans Kristian hanskris2000@gmail.com Olivia C. P. Pelealu oliviapelealu@unsrat.ac.id Steward K. Mengko stewardkeneddy@yahoo.co.id <p class="ABSTRAK"><strong>Abstract</strong>: Allergic rhinitis is a chronic inflammatory disease that affects about 10-20% of the world’s population. The therapy of this disease is based on its pathophysiology. Some research said that exercise can affect the cytokines involved in allergic rhinitis pathophysiology. This study aims to explain the effect of exercise on allergic rhinitis symptoms improvement. The design of this study is literature review and PICOS framework as the selection criteria. Exercise improves allergic rhinitis symptoms by modulating cytokines, such as IL-2, IL-4, IL-13, and TNF-a. Furthermore, exercise can increase lung function, modulate the autonomic nervous system, decrease airway resistance, and increase VO2max. However, these effects can only be obtained from moderate-intensity exercise, such as yoga, aquatic exercise, winter exercise, and treadmill. Exercise can improve allergic rhinitis symptoms in some way that fits its pathophysiology.</p><p class="KEYWORDS"><strong>Keywords: </strong>allergic rhinitis; symptom; exercise</p><p class="ABSTRAK"><strong>Abstrak: </strong>Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi kronis yang diperkirakan diderita oleh 10-20% populasi dunia. Terapi penyakit ini disesuaikan dengan patofisiologinya. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa olahraga dapat memengaruhi sitokin-sitokin yang berperan dalam patofisiologi rinitis alergi. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan efek olahraga terhadap perbaikan gejala rinitis alergi. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah <em>literature review</em> dengan menggunakan kriteria seleksi PICOS <em>framework.</em> Olahraga memperbaiki gejala rinitis alergi dengan memodulasi sitokin-sitokin, seperti IL-2, IL-4, IL-13, dan TNF-a. Selain itu, olahraga dapat meningkatkan fungsi paru, memodulasi sistem saraf otonom, menurunkan resistensi jalan napas, dan meningkatkan VO2max. Akan tetapi, efek-efek ini hanya didapatkan dari olahraga-olahraga intensitas sedang, seperti yoga, olahraga akuatik, olahraga musim dingin, dan <em>treadmill</em>. Olahraga dapat memperbaiki gejala rinitis alergi melalui beberapa cara yang sesuai dengan patofisiologinya.</p><p class="KEYWORDS"><strong>Kata kunci: </strong>rinitis alergi; gejala; olahraga</p> 2022-03-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Biomedik : JBM https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/view/37585 Hubungan Durasi Duduk terhadap Kejadian Tension Neck Syndrome dalam Masa Pembelajaran Daring selama Pandemi COVID-19 2022-04-30T20:55:29+08:00 Bianca I. J. J. Mandagi 18011101032@student.unsrat.ac.id Jimmy F. Rumampuk jimmyrumampuk@unsrat.ac.id Vennetia R. Danes vennetiadanes@yahoo.com <p class="ABSTRAK"><strong>Abstract: </strong>During the implementation of online learning due to the COVID-19 pandemic, students are exposed to musculoskeletal disorders risk factors such as sitting duration, muscle tension, and uncomfortable positions that can trigger musculoskeletal disorders including complaints of neck pain which ends in Tension Neck Syndrome. This study aims to determine the relationship between sitting duration and the incidence of Tension Neck Syndrome in the course of online learning during the COVID-19 pandemic on students of the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University, Manado. This is a cross-sectional study with google form questionnaire research instrument. The sample of this study was 64 students who were selected using the Simple Random Sampling method which was processed using the chi-square statistical test. The results of this study indicate that most students feel neck pain complaints after 7-9 hours of attending online lectures in a day. The test results obtained p &lt; 0.008 which means that there is a significant relationship between sitting duration and the incidence of Tension Neck Syndrome. There is a relationship between the duration of sitting and the incidence of Tension Neck Syndrome during the online learning period during the COVID-19 pandemic for students of the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University, Manado</p><p class="KEYWORDS"><strong>Keywords: </strong>sitting duration; tension neck syndrome; neck pain</p><p class="ABSTRAK"><strong>Abstrak: </strong>Ditengah pemberlakuan pembelajaran daring oleh karena pandemi COVID-19, mahasiswa terpapar dengan faktor – faktor risiko gangguan musculoskeletal seperti durasi duduk, ketegangan otot, serta posisi yang tidak nyaman sehingga dapat memicu terjadinya gangguan muskuloskeletal termasuk keluhan nyeri leher yang berakhir pada kejadian <em>Tension Neck Syndrome</em>. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi duduk terhadap kejadian <em>Tension Neck Syndrome</em> dalam masa pembelajaran daring selama pandemi COVID-19 pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Penelitian ini menggunakan pendekatan<strong> </strong><em>cross-sectional</em> <em>study </em>dengan instrumen penelitian kuesioner google formulir. Sampel penelitian ini yaitu 64 mahasiswa yang dipilih kemudian diolah menggunakan uji statistika <em>chi square</em>. Hasil penelitian ini menunjukan durasi duduk yang bervariasi dan sebagian besar mahasiswa merasakan keluhan nyeri leher setelah 7 – 9 jam mengikuti kuliah daring dalam sehari.<strong> </strong>Hasil uji didapatkan <em>p </em>&lt; 0,008 yang berarti terdapat hubungan bermakna antara durasi duduk dengan kejadian <em>Tension Neck Syndrome</em>.<strong> </strong>Terdapat hubungan antara durasi duduk terhadap kejadian <em>Tension Neck Syndrome</em> dalam masa pembelajaran daring selama pandemi COVID-19 pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado</p><p class="KEYWORDS"><strong>Kata Kunci:</strong> durasi duduk; <em>tension neck syndrome</em>; nyeri leher</p> 2022-03-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Biomedik : JBM https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/view/37343 Proteomics sebagai Metode Identifikasi dalam Ilmu Kedokteran Forensik 2022-04-30T20:55:29+08:00 Dewi D. L. Matialu dewimatialu@gmail.com Erwin G. Kristanto dewimatialu@gmail.com Johannis F. Mallo dewimatialu@gmail.com <p class="ABSTRAK"><strong>Abstract<a name="_Hlk89278424"></a>:</strong> DNA analysis is the gold standard in forensic identification, however there are some circumstances in which DNA has been degraded or uninformative that make proteomics has the potential to be an alternative method of forensic identification. This study used a literature review method using four databases (Pubmed, ScienceDirect, Proquest, and SpringerLink). The keywords used in the data search are Proteomics OR Analysis Proteome OR Protein-based Identification AND Forensic Identification. The data selection process using inclusion and exclusion criteria, resulted in 10 literatures (research article). There were 10 literatures that examine the implementation of proteomics as a method of identification in forensic cases using various samples such as hair, bone, muscle, blood plasma, body fluids, stomach content, organ fragments, vomit traces, nail scrapings, and fingerprints with significant research results. The development &amp; implementation of proteomics as a method of forensic identification is currently undergoing several developments using spectrometry (MS) technology. With various significant research results, proteomics has great potential not only in identifying individuals, but in many other ways in forensic medicine.</p><p class="KEYWORDS"><strong>Keywords:</strong> Proteomics; Analysis Proteome; Protein-based Identification; Forensic Identification</p><p class="ABSTRAK"><strong>Abstrak:</strong> <a name="_Hlk89278417"></a>Analisis DNA merupakan <em>gold standard</em> dalam identifikasi forensik, tetapi ada beberapa keadaan dimana DNA sudah terdegradasi atau tidak informatif yang menjadikan <em>proteomics</em> berpotensi menjadi sebuah metode alternatif dalam identifikasi forensik. Penelitian ini menggunakan metode <em>literature review</em> dengan pencarian data menggunakan empat <em>database</em> (<em>Pubmed, ScienceDirect, Proquest, </em>dan<em> SpringerLink</em>). Kata kunci yang digunakan dalam pencarian adalah <em>Proteomics</em> OR <em>Analysis Proteome </em>OR<em> Protein-based Identification</em> AND <em>Forensic Identification. </em>Proses seleksi data dengan menggunakan kriteria inklusi dan ekslusi mendapatkan 10 <em>literature</em> (<em>research article).</em> Terdapat 10 <em>literature</em> yang meneliti tentang implementasi <em>proteomics</em> dalam proses identifikasi pada kasus forensik dengan menggunakan berbagai sampel seperti rambut, tulang, otot, plasma darah, cairan tubuh, zat dalam perut, fragmen organ, jejak muntah, kerokan kuku, dan sidik jari dengan hasil penelitian yang signifikan. Perkembangan &amp; implementasi <em>proteomics</em> sebagai metode identifikasi forensik saat ini sudah mengalami beberapa perkembangan dengan menggunakan teknologi <em>mass spectrometry</em> (MS). Dengan berbagai hasil penelitian yang signifikan, maka <em>proteomics</em> memiliki potensi yang besar tidak hanya dalam mengidentifikasi individu, tetapi dalam berbagai hal lain dalam ilmu kedokteran forensik.</p><p class="KEYWORDS"><strong>Kata Kunci:</strong> Proteomik; Analisis Proteom; Identifikasi Berbasis Protein; Identifikasi <span>Forensik</span></p> 2022-03-31T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Biomedik : JBM https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/view/37598 Efektivitas Implan Koklea pada Anak 2022-04-30T20:55:29+08:00 Cathie M. J. Soentpiet cathiemariajs@gmail.com Ora E. L. I. Palandeng oraetlaborap@yahoo.com Olivia C. P. Pelealu liv_dr@yahoo.com <p class="ABSTRAK">Abstract: Sensorineural hearing disorder is one of the most common types of hearing disorder. If not handled, sensorineural hearing disorder in children could affect the development of children, quality of life, and also economically. Cochlear implant is auditory nerve stimulus prosthesis and one of the choices of rehabilitation for children with sensorineural hearing disorder. This study aims to know the effectiveness of cochlear implant in children. The type of this study is literature review. There are 14 literatures reviewed from three databases which contain eight longitudinal studies, three cross-sectional studies, one case-control study, and two comparative studies. Based on the 14 literatures, cochlear implant increases the development of hearing and speech skills in children. Furthermore, it is recommended for children with sensorineural hearing disorder to be using cochlear implants early. In conclusion, the use of cochlear implants in children increased hearing and speech skills development. Although it lacks a little in terms of pragmatic, emotional, and expressive performance, these abilities will improve with increasing experience using cochlear implants. So the early detection of sensorineural hearing loss in children and early implantation is recommended.</p><p class="KATAKUNCI"><strong>Keywords: </strong>Effectiveness; Cochlear Implant; Children</p><p class="ABSTRAK">Abstrak: Gangguan pendengaran sensorineural merupakan salah satu tipe gangguan pendengaran yang paling sering ditemukan. Apabila tidak ditangani, gangguan pendengaran sensorineural pada anak dapat berdampak pada perkembangan anak, kualitas hidup, dan juga secara ekonomi. Implan koklea adalah protesis stimulus saraf pendengaran yang merupakan salah satu pilihan rehabilitasi untuk gangguan pendengaran sensorineural pada anak. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui bagaimana efektivitas implan koklea pada anak. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian <em>literature review</em>. Ada 14 literatur yang diulas dari penelusuran tiga <em>database</em> dan terdiri dari delapan studi longitudinal, tiga studi potong lintang, satu studi kasus-kontrol, dan dua studi komparatif. Berdasarkan penelusuran 14 literatur didapatkan bahwa penggunaan implan koklea meningkatkan kemampuan pendengaran dan bicara pada anak. Selain itu, direkomendasikan untuk menggunakan implan koklea sejak dini pada anak dengan gangguan sensorineural derajat berat hingga sangat berat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan implan koklea pada anak menghasilkan peningkatan perkembangan pendengaran dan bicara. Walaupun pada sisi kinerja secara pragmatis, emosional, dan ekspresif masih sedikit tertinggal, namun kemampuan-kemampuan tersebut akan meningkat seiring dengan pertambahan pengalaman menggunakan implan koklea. Sehingga direkomendasikan deteksi dini gangguan pendengaran sensorineural pada anak dan implantasi dini..</p><p dir="ltr"><strong>Kata kunci</strong> : Efektivitas; Implan Koklea; Anak</p> 2022-04-30T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Biomedik : JBM https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/view/35560 Hubungan Deviasi Septum Nasi pada Pasien yang Menjalani Pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasalis dengan Derajat Obstruksi Nasi berdasarkan Skor NOSE 2022-04-30T20:55:29+08:00 Ahni Mustain ahnimustainrad@gmail.com Nurlaily Idris ahnimustainrad@gmail.com Junus Baan ahnimustainrad@gmail.com <p class="ABSTRAK">Abstract: The aimsof thisresearchistoanalyze the relationshipbetweennasalseptaldeviation in patients having a CT scan of paranasal sinuses and the degree of nasalobstructionbasedontheNOSEscore. ThisresearchwasconductedatTheDepartment of Radiology, Dr. Wahidin Sudirohusodo dan RSPTN UNHAS.Thetotal sampleswere57people. ThedatawereanalyzedusingKruskalWallisand <em>Chi</em><em></em><em>Square</em><em></em>tests. Theresultsshowthatthemost<span>deviation</span><span>types</span><span>of</span><span>the</span><span>nasal septal</span> <span>are</span>Ctype,followed respectivelybycombinationtype, S type and finally the spur type. A significant correlation was found betweennasal septum deviation and degree of nasal obstruction according to the NOSE<span>score</span><span>(p&lt;0,0001),</span><span>where</span><span>moderate</span><span>obstruction</span>isfoundmostinthecombinationandStype, whereasmildobstruction ismostlyfoundin Candspur type.</p><p class="KATAKUNCI"><strong>Keywords:</strong> Nasal Septal Deviation; Paranasal Sinus CT Scan; Degree of NasalObstruction;NOSE Score</p><p class="ABSTRAK">Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara deviasi septum nasipada pasien yang menjalani pemeriksaan CT scan sinus paranasalis dengan derajatobstruksi nasi berdasarkan skor NOSE. Penelitian ini dilaksanakan di DepartemenRadiologi RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo dan RSPTN UNHAS.Jumlahsampelsebanyak57orang.<span> Analisa data</span><span> meng</span>gunakanujiKruskalWallisdan<em>Chi</em><em></em><em>Square</em>.HasilpenelitianmenunjukkanbahwatipedeviasiseptumnasiyangterbanyakadalahtipeC,kemudian tipe kombinasi, tipe S dan terakhir tipe spur. Terdapat hubungan yangbermakna antara deviasi septum nasi dengan derajat obstruksi nasi berdasarkanskorNOSE(p&lt;0,0001),dimanaderajatobstruksinasiyangpalingbanyak padatipekombinasi dan tipe S adalah obstruksi sedang, sedangkan pada tipe C dan spuradalahobstruksi ringan.</p><p class="KATAKUNCI"><strong><span>Kata kunci:</span></strong><span> Deviasi Septum Nasi; CT Scan Sinus Paranasalis; Derajat Obstruksi Nasi; Skor NOSE</span></p> 2022-04-30T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Biomedik https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/view/37602 Prosedur Endoskopi THT-KL di Era Pandemi COVID-19 2022-04-30T20:55:29+08:00 Triyanti E. Soelama elizabethtriy4nti@gmail.com Steward K. Mengko stewardkeneddymengko@unsrat.ac.id Ora E. L. I. Palandeng oraetlaborap@yahoo.com <p class="ABSTRAK"><span lang="EN-AU">Abstract:</span><span lang="EN-AU">Since the arrival of the COVID-19 virus in Indonesia, procedures have changed in various fields in order to reduce the transmission rate of the virus, especially changes to existing procedures in the ENT field which is very vulnerable to contracting the COVID-19 virus. This study aims to explain the ENT endoscopic procedure and its changes in the era of the COVID-19 pandemic. This study used Literature Review method. The search for data used five databases with the specified criteria, which is Science Direct, PubMed, ClinicalKey, Proquest and SpringerLink, with the keywords used were ENT Endoscopy procedure, AND Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). After being selected based on the inclusion and exclusion criteria, there were 13 literatures consisting of 4 research systematic review, 8 experimental studies, and 1 descriptive study. There were 13 literatures that examine changes in endoscopic procedures and other procedures that contribute to the ENT field. There have been several changes to endoscopic procedures, or procedures that are useful for the ENT field in order to continue carrying out safe endoscopic procedures and to reduce the transmission of the COVID-19 virus for medical personnel and also for patients being treated.</span></p><p class="KATAKUNCI"><strong><span lang="EN-AU">Keywords</span></strong><span lang="EN-AU">: ENT Endoscopy procedure; Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)</span></p><p class="ABSTRAK">Abstrak: Sejak kedatangan virus COVID-19 di Indonesia membuat prosedur tindakan di berbagai bidang berubah guna untuk menekan angka penularan dari virus tersebut, khususnya perubahan prosedur yang ada di bidang THT-KL yang sangat rentan tertular virus COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan prosedur endoskopi THT-KL dan perubahannya di era pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan metode <em>Literature Review</em>, pencarian data menggunakan lima <em>database</em> yaitu <em>Science Direct, PubMed, ClinicalKey, Proquest </em>dan <em>SpringerLink</em>, dengan kata kunci yang digunakan adalah <em>ENT Endoscopy procedure, </em>AND<em> Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). </em>Setelah diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan 13 literatur yang terdiri dari 4<em> </em>penelitian <em>systematic review</em>, 8 penelitian eksperimental, dan 1 penelitian deskriptif. Terdapat 13 literatur yang meneliti mengenai perubahan prosedur endoskopi maupun prosedur lain yang berkontribusi untuk bidang THT-KL. Banyak perubahan prosedur endoskopi, ataupun prosedur yang berguna untuk bidang THT-KL agar tetap menjalankan tindakan endoskopi yang aman dan dapat menekan penularan virus COVID-19 bagi tenaga medis yang bertugas dan juga pada pasien yang ditangani.</p><p class="KATAKUNCI"><strong>Kata Kunci</strong>: Prosedur Endoskopi THT-KL; Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)<strong></strong></p> 2022-04-30T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Biomedik : JBM https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/view/37463 Gambaran Kasus Kejahatan Persetubuhan Anak di Bawah Umur 2022-04-30T20:55:29+08:00 Cynthia L. Magindali cynthialaurent07@gmail.com Djemi Tomuka cynthialaurent07@gmail.com James F. Siwu cynthialaurent07@gmail.com <p class="ABSTRAK">Abastract: Child sexual intercourse is a case that often occurs recently and continues to increase every year. Data from Komnas Perempuan shows that the second and most prominent cases of sexual violence were 962 cases (55%) consisting of other sexual violence with 371 cases, one of which was sexual intercourse, totaling 5 cases. Methods of this research is descriptive retrospective with a cross-sectional research design which was carried out by taking secondary data, namely reports of cases of sexual intercourse with minors at the Poso Police Station and the Poso District Women's Empowerment and Child Protection Office in 2019-2020. Based on the data obtained, cases of sexual intercourse with minors in 2019-2020 in Poso Regency amounted to 23 cases, the most occurred in Lage and Lore Barat Subdistricts as many as 5 cases, and most often experienced by the age group of victims 11-17 years amounting to 15 cases, and most of the perpetrators were victims of the age group 15-24 totaling 17 cases, with the highest status having no family relationship, amounting to 8 cases. In conclusion, based on the results of the study, it was found that there was an increase in cases of sexual intercourse with minors. In 2019 there were at least 83 cases of sexual harassment in 2019 and one of them was cases of sexual abuse with children totaling 9 cases and in 2020 there were 14 cases reported to the Office of Women's Empowerment and Child Protection and the Women and Children Protection Unit (PPA) of Poso Police.</p><p class="KEYWORDS"><strong>Keywords</strong>: sexual intercourse with a minor; Poso district</p><p class="ABSTRAK">Abstrak: Persetubuhan anak di bawah umur merupakan kasus yang banyak terjadi akhir-akhir ini dan terus meningkat tiap tahun. Data dari Komnas Perempuan bahwa kasus kekerasan seksual posisi kedua dan paling menonjol sebesar 962 kasus (55 %) terdiri dari kekerasan seksual lain dengan 371 kasus salah satunya adalah kasus persetubhan berjumlah 5 kasus. Metode penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif dengan rancangan penelitian potong lintang yang dilakukan dengan mengambil data sekunder yaitu laporan kasus kejahatan persetubuhan anak di bawah umur di Polres Poso dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Poso Tahun 2019-2020. Berdasarkan data yang didapatkan, kasus persetubuhan anak di bawah umur tahun 2019-2020 di Kabupaten Poso berjumlah 23 kasus, paling banyak terjadi di Kecamatan Lage dan Lore Barat sebanyak 5 kasus, dan paling sering menjadi korban kelompok usia 11 – 17 tahun berjumlah 15 kasus, dan paling banyak yang menjadi pelaku adalah kelompok usia 15 – 24 tahun berjumlah 17 kasus, dengan status terbanyak yang tidak memiliki hubungan kekeluargaan berjumlah 8 kasus. Sebagai simpulan,: Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa terjadi peningkatan kasus persetubuhan anak di bawah umur. Tahun 2019 terdapat setidaknya 83 kasus pelecehan seksual tahun 2019 dan salah satunya yaitu kasus persetubuhan terhadap anak di bawah umur berjumlah 9 kasus dan pada tahun 2020 tercatat 14 kasus yang melapor di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Poso.</p><p class="KATAKUNCI"><strong>Kata Kunci:</strong> persetubuhan anak di bawah umur; kabupaten Poso<strong></strong></p> 2022-04-30T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Biomedik : JBM https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/view/37592 Analisa Perbandingan Pengukuran Tekanan Darah antara Posisi Tidur dan Posisi Duduk pada Lansia 2022-04-30T20:55:29+08:00 Eugenia R. Dumalang eugeniadumalang@gmail.com Fransiska Lintong eugeniadumalang@gmail.com Vennetia R. Danes eugeniadumalang@gmail.com <p class="ABSTRAK">Abstract: Measurement of blood pressure in humans can show different results, depending on various factors such as age, gender, and body position. Changes in body position can cause venous flow, cardiac output and blood pressure to change. As a person gets older, his ability to adapt to hemodynamic changes decreases. Objective: This study aims to determine, analyze, and compare blood pressure in a sleeping position and in a sitting position in the elderly in Madidir District, Bitung City. Methods: Analytical observation with a cross-sectional study approach and research instruments sphygmomanometer, stethoscope, and writing instruments. The research sample was 35 elderly people who were selected using the purposive sampling technique which was processed using the Wilcoxon Signed Rank Test statistical test. Results: The test results obtained p = 0.000 for systolic blood pressure and p = 0.002 for diastolic blood pressure, which means that there is a significant difference between the sleeping position and sitting position and blood pressure. Conclusion: There is a significant difference between systolic and diastolic blood pressure in the sleeping position and in the sitting position, namely a decrease in systolic and diastolic blood pressure in the elderly in Madidir District, Bitung City.</p><p class="KATAKUNCI"><strong>Keywords:</strong> positional change; blood pressure.</p><p class="ABSTRAK">Abstrak: Pengukuran tekanan darah pada manusia dapat menunjukkan hasil yang berbeda-beda, bergantung dari berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, dan posisi tubuh. Perubahan posisi tubuh dapat menyebabkan aliran vena, curah jantung dan tekanan darah mengalami perubahan. Semakin tua seseorang, maka kemampuannya menyesuaikan dengan perubahan hemodinamik semakin menurun. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, menganalisa, dan membandingkan tekanan darah pada posisi tidur dan pada posisi duduk pada lansia di Kecamatan Madidir, Kota Bitung. Metode: Observasional analitik dengan pendekatan <em>Cross-sectional</em> <em>study </em>dan instrumen penelitian sfigmomanometer, stetoskop, dan alat tulis menulis. Sampel penelitian yaitu 35 orang lansia yang dipilih dengan teknik <em>Purposive Sampling</em> yang diolah menggunakan uji statistika <em>Wilcoxon Signed Rank Test</em>. Hasil: Hasil uji didapatkan <em>p</em>=0,000 untuk tekanan darah sistolik dan p=0,002 untuk tekanan darah diastolik yang berarti terdapat perbedaan bermakna antara posisi tidur dan posisi duduk dengan tekanan darah. Kesimpulan: Adanya perbedaan yang signifikan antara tekanan darah sistolik dan diastolik pada posisi tidur dan pada posisi duduk yaitu terjadi penurunan tekanan darah sistolik dan diastolic pada lansia di Kecamatan Madidir Kota Bitung.</p><strong><span>Kata Kunci</span></strong><span>: perubahan posisi; tekanan darah</span> 2022-04-30T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Biomedik : JBM