MANADO ART CENTER. Complexity and Contradiction in Architecture

Rachel M. Solang, Alvin J. Tinangon, Hendriek H. Karongkong

Abstract


Indonesia adalah tanah yang kaya. Berbagai keragaman suku, bahasa, bangsa, dan kebudayaan memenuhi tanah air. Setiap provinsi bahkan kabupaten/ kota memiliki kebudayaan menarik yang wajib diperkenalkan ke masyarakat luas bahkan hingga ke jenjang internasional. Selain itu kreativitas yang dimiliki manusia pada umumnya tidak hanya melalui seni kognitif seperti prestasi-prestasi akademik, melainkan juga segi afektif yang sangat erat dengan optimalisasi penggunaan otak kanan, sehingga seni menjadi sebuah gaya hidup bahkan menjadi sebuah kebutuhan yang tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari.

Perkembangan seni, seprti pelaku seni yang ada di Manado ini memerlukan suatu wadah agar seni dan kebudayaan yang merupakan identitas bangsa dapat terpelihara dengan baik. Sebuah wadah yang dapat menjawab segala keutuhan para pengguna seni baik itu pelaku seni maupun penikmat seni. Sehingga seni dapat terpelihara dengan baik, dinikmati, dan dapat dibawa luas hingga ke jenjang internasional, agar bisa menarik para wisatawan untuk mengunjungi bahkan mempelajari seni milik tanah air.

Manado Art Center dengan penerapan Complexity and Contradiction ini hadir untuk menjawab segala kebutuhan para pelaku seni tanpa mengesampingkan estetika dalam pembangunan pada iklim tropis seperti di Indonesia ini.

Metode yang digunakan merupakan kriteria yang telah tentukan berupa analisis sebelum pemecahan masalah, sintesis outpun secara sistematis, kemudian mengevaluasi secara logis, secara bertahap dan berulang-ulang suatau rancangan, sehingga menghasilkan gambar-gambar desain perancangan Manado Art Center seperti, rencana tapak, layout, denah, tampak, dengan konsep bangunan sesuai penerapan Complexity and Contradiction in Architecture.

            

Kata kunci : Manado, Art Center, Complexity And Contradiction In Achitecture, Seni.


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.