EFEKTIVITAS PEMERINTAH KECAMATAN DALAM PENANGANAN SAMPAH (Studi Kecamatan Malalayang)

Refinro Samau

Abstract


ABSTRAK

Data Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) hingga tahun 2018, Kota Manado tercatat memproduksi sampah hingga 409 ton perhari atau 12 ribu ton perbulan atau meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 390 ton perhari. Lebih lanjut, data Dinas Lingkungan Hidup Kota Manado bahkan mencatat volume sampah di Kota Manado telah mencapai 828.812 meter kubik, atau terus mengalami peningkatan secara signifikan sejak 2012. Dari jumlah itu, komposisi sampah banyak didominasi sampah sisa makanan mencapai 59,21 persen sampah plastik 20.03 persen serta sampah kertas 6,70 persen dan tekstil 5,90 persen. Penyumbang sampah terbanyak di Kota Manado berasal dari kelompok pemukiman warga 65,68 persen, pasar tradisional 8,12 persen, pusat perniagaan 5,65 persen, dan sampah kawasan 2,4 persen. Berdasarkan paparan data sampah tersebut sudah cukup menggambarkan bahwa masalah sampah di Kota Manado cukup fundamental, artinya secara sempit dapat dipahami bahwa data tersebut dapat juga digambarkan pada setiap wilayah administrasi kecamatan di Kota Manado. Salah satu yang menjadi sorotan adalah Kecamatan Malalayang. Permasalahan sampah di Kecamatan Malalayang masi cukup mendasar sebagai Pekerjaan Rumah pihak pemerintah kecamatan, sebagaimana termaktub pada peraturan Walikota Kota Manado Nomor 33 tahun 2018 tentang Pengurangan dan Penanganan Sampah Berbasis Kecamatan Pasal 7 Huruf c Huruf d Menjelaskan bahwa  Kecamatan melakukan Pengurangan dan Penanganan sampah dengan mengkoordinasikan  setiap petugas di Kelurahan. Dengan menggunakan metode kualitatif (Moleong, 2010), penelitian ini akan menggambarkan bagaimana peran pemerintah khususnya pemerintah kecamatan Malalayang dalam mengatasi problematika terkait sampah. Temuan penelitian menggambarkan pada aspek sistem penangangan, yang dilakukan oleh pemerintah kecamatan adalah berkoordinasi dengan kelurahan, sampah diangkat dengan roda tiga di setiap lingkungan lalu dibawah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Namun masyarakat menilai sistem penangganan sampah di Kecamatan Malalayang tidak maksimal karena petugas pengangkut sampah tidak bekerja setiap hari, sehingga menimbulkan penumpukan sampah di gang jalan. Sedangkan jika dilihat dari aspek strategi dalam penanganan sampah di Kecamatan Malalayang pemerintah kecamatan hanya lepas tangan dan mengganggap hal itu merupakan urusan pemerintah Daerah lewat Dinas kebersihan dan lingkungan hidup Kota Manado.

 

Kata Kunci: Efektifitas; Penanganan Sampah

 

 

ABSTRACT

Data from the Director General of Waste Management, Waste and Toxic Hazardous Materials (PSLB3) of the Ministry of Environment and Forestry (LHK) until 2018, Manado City was recorded to produce up to 409 tons of waste per day or 12 thousand tons per month or an increase from the previous year which only reached 390 tons per day. Furthermore, data from the Manado City Environment Agency even records that the volume of waste in Manado City has reached 828,812 cubic meters, or has continued to increase significantly since 2012. Of that amount, the composition of waste is dominated by food waste, reaching 59.21 percent of plastic waste 20.03. percent and paper waste 6.70 percent and textiles 5.90 percent. The largest contributor to waste in Manado City comes from residential groups 65.68 percent, traditional markets 8.12 percent, trade centers 5.65 percent, and regional waste 2.4 percent. Based on the explanation of the waste data, it is sufficient to illustrate that the waste problem in Manado City is quite fundamental, meaning that it can be understood narrowly that the data can also be described in each sub-district administrative area in Manado City. One of the highlights is Malalayang District. The problem of waste in Malalayang District is still quite basic as homework for the sub-district government, as stipulated in the Regulation of the Mayor of Manado City Number 33 of 2018 concerning Subdistrict-Based Waste Reduction and Management Article 7 Letter c Letter d Explains that the District does Waste Reduction and Handling by coordinating each officers in the Kelurahan. By using qualitative methods (Moleong, 2010), this study will describe the role of the government, especially the Malalayang sub-district government in overcoming problems related to waste. The research findings illustrate the aspects of the handling system, which is carried out by the sub-district government by coordinating with the sub-district, the garbage is lifted with a tricycle in each environment and then taken to the final disposal site (TPA). However, the community considers that the garbage collection system in Malalayang District is not optimal because garbage collectors do not work every day, causing a buildup of garbage in the alleys. Meanwhile, when viewed from the strategic aspect of waste management in Malalayang District, the sub-district government only hands off and considers it a matter for the local government through the Manado City Office of Cleanliness and Environment.

 

Keywords: effectiveness; Waste Handling

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Jurnal Politico FISIP UNSRAT