Perbandingan pH Saliva Setelah Mengonsumsi Buah Papaya (Carica papaya L.) dan Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus)

Authors

  • Sari Aldilawati Universitas Muslim Indonesia
  • Muhammad J. Abdi Universitas Muslim Indonesia
  • Nurul A. E. P. A. Salim Universitas Muslim Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.35790/eg.v14i2.62819

Keywords:

pH saliva; pepaya; buah naga merah

Abstract

Abstract: Saliva is a complex fluid produced by the salivary glands and plays a very important role in maintaining the balance of the ecosystem in the oral cavity. Papaya fruit (Carica papaya L.) contains 0.7 grams of fiber per 100 grams, which can help increase saliva production, thereby providing a self-cleansing effect. Red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) is rich in nutrients such as vitamin C, phosphorus, calcium, and antioxidants, and contains antibacterial agents, betacyanin, and phenols. Consuming fruit is one way to maintain optimal saliva pH level and prevent tooth decay. Therefore, the effectiveness of these two types of fruits on saliva pH levels needs to be explored. This was a quasi-experimental study employing a two-group pretest-posttest design. The results showed that based on the Wilcoxon test results, there was a significant difference in the average saliva pH before and after consuming papaya (Carica papaya L.) and red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus), however, the Mann Whitney test showed no difference between the two treatments. In conclusion, papaya (Carica papaya L.) and red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) have the same effectiveness in lowering saliva pH after consumption by chewing. Although significant

Keywords: pH saliva; papaya fruit (Carica papaya L.); red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus)

  

Abstrak: Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar saliva dan berperan penting dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem dalam rongga mulut. Buah papaya (Carica papaya L.) mengandung serat sebanyak 0,7 gr dalam tiap 100 gr, yang dapat membantu pengeluaran saliva lebih banyak sehingga memberikan efek self cleansing. Buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) memiliki kandungan nutrisi kaya vitamin C, fosfor, dan kalsium, antioksidan, serta kandungan antibakteri, betacinin, dan fenol. Mengonsumsi buah merupakan salah satu cara menjaga pH saliva dalam kondisi optimum untuk mencegah terjadinya karies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas mengonsumsi kedua jenis buah terhadap pH saliva. Penelitian ini menggunakan metode kuasi-eksperimental, dengan two group pretest postest design. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan temuan berbeda secara bermakna antara rerata pH saliva sebelum dan sesudah mengonsumsi buah papaya (Carica papaya L.) maupun buah naga merah (Hylocereus polyrhizus), namun uji  Mann Whitney tidak mendapatkan perbedaan antara kedua perlakuan. Simpulan penelitian ini ialah buah pepaya (Carica papaya L) dan buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) memiliki efektivitas yang sama dalam menurunkan pH saliva setelah dikonsumsi dengan cara dikunyah. Meskipun perubahan bermakna terjadi dalam masing-masing kelompok, tidak ditemukan adanya perbedaan efektivitas yang bermakna antara keduanya.

Kata kunci: pH saliva; pepaya; buah naga merah

Author Biographies

Sari Aldilawati, Universitas Muslim Indonesia

Bagian Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia, Makassar, Indonesia

Muhammad J. Abdi, Universitas Muslim Indonesia

Bagian Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia, Makassar, Indonesia

Nurul A. E. P. A. Salim, Universitas Muslim Indonesia

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia, Makassar, Indonesia

References

1. Emini E, Kristianto J, Yulita I, Erwin E, Shara NM. Pengetahuan ibu tentang kebiasaan minum susu formula melalui botol dan status karies gigi susu pada anak usia prasekolah. JDHT Journal of Dental Hygiene and Therapy. 2020;1(2):50–4. Doi: 10.36082/jdht.v1i2.132

2. World Health Organization. Oral health. Geneva: World Health Organization; 1996. Available from: https://apps. who.int/iris/bitstream/handle/10665/61182/WHO_ORH_DMFT12_96.1.pdf?sequence=1&isAllowed=y

3. Haryani W, Siregar I, Ratnaningtyas LA. Buah mentimun dan tomat meningkatkan derajat keasaman (pH) saliva dalam rongga mulut. Jurnal Riset Kesehatan. 2016;5(1):21–4. Doi: 10.31983/jrk.v5i1.456

4. Robertsson C, Svensäter G, Davies JR, Bay Nord A, Malmodin D, Wickström C. Synergistic metabolism of salivary MUC5B in oral commensal bacteria during early biofilm formation. Microbiology Spectrum. 2023;11(6):e0270423. Doi: 10.1128/spectrum.02704-23

5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Gigi Indonesia (SKI) Tahun 2023. Jakarta: Konsil Kedokteran Indonesia; 2023.

6. Syauqy A, Iskandar MM. Perbandingan pH saliva setelah konsumsi buah nanas dan buah belimbing. Jurnal Medika Jember. 2022;10(1):26–36. Doi: 10.22437/jmj.v10i1.13201

7. Sawitri H, Maulina N. Derajat pH saliva pada mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh yang mengkonsumsi kopi tahun 2020. Averrous. 2021;7(1):84. Doi: 10.29103/averrous.v7i1.4729

8. Hidayanti L. Peran buah dan sayur dalam menurunkan keparahan karies gigi pada anak [Skripsi]. Tasikmalaya: Universitas Siliwangi; 2007.

9. Cahyati WH. Konsumsi pepaya (Carica papaya) dalam menurunkan debris index. Jurnal Kesehatan Masyarakat (KEMAS). 2013;8(2):127–36. Doi: 10.15294/kemas.v8i2.2636

10. Ariyani B, Armalina D, Purbaningrum DA. Pengaruh konsentrasi ekstrak kulit buah naga merah terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans pada sediaan obat kumur (uji in vitro). e-GiGi. 2021;9(2):289. Doi: 10.35790/eg.v9i2.34572

11. Pintauli S, Hamada. Analisis hubungan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut terhadap status kesehatan gigi dan mulut siswa SD dan SMP di Medan, menuju gigi dan mulut sehat ; pencegah dan pemeliharaannya. Medan: USU Press; 2016. p. 16.

12. Widowati W, Akbar SH, Tin MH. Salivary pH changes in patients with high and low caries risk after consuming organic (sucrose) and non-organic (malitol) sugar. IIUM Medical Journal Malaysia. 2013;12(2):15-21. Doi: 10.31436/imjm.v12i2.504

13. Pamewa K, Masriadi M, Bachtiar R, Pertiwisari A, Aslan S, Anas R, et al. Perbedaan skor plak sebelum dan setelah mengunyah buah naga putih pada anak 10-11 tahun. Sinnun Maxillofacial Journal. 2021;3(01):36–41. Doi: 10.33096/smj.v3i01.8

14. Meidia BP, Heni R, Yoga A. Pengaruh subtitusi buah naga merah terhadap aktivitas antioksidan, pH, total bakteri asam laktat dan organoleptic kefir sari kedelai. Jurnal Teknologi Pangan. 2018;2(2):98-105. Doi: 10.14710/jtp.2018.20638

15. Nazir A, Ahmad U, Qamar N, Abaid Z, Zafar N, Anam S. Evaluation of changes in salivary ph after the intake of fruits, fresh fruit juices and processed juices: a randomized control trial. Pure and Applied Biology. 2020;9(3):1976-81. Doi:10.19045/bspab.2020.90210

16. Afrina, Chismirina S, Amirza NS. Perubahan pH saliva sebelum dan sesudah mengkonsumsi buah pisang ayam (Musa acuminata Colla) pada mahasiswa FKG UNSYIAH angkatan 2014. Cakradonya Dental Journal. 2018;10(1):44-8. Doi: 10.24815/cdj.v10i1.10615

17. Priyambodo RA, Rahmadani R. Pengaruh mengonsumsi air kelapa (Cocos nucifera) terhadap pH saliva pada masyarakat Desa Watu Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng. Jurnal Media Kesehatan Gigi. 2020;19(1). Doi: 10.32382/mkg.v19i1.1575

18. Molek, Adriana S, Manalu RU. Efektivitas mengunyah buah pir hijau (pyrus communis) dan buah pisang ayam (Musa acuminata) terhadap derajat keasaman ran kapasitas buffer saliva pada anak umur 6-12 tahun. Jambura Journal of Health Science and Research. 2023;5(2):673-83. Doi: 10.35971/jjhsr.v5i2.18823

19. Rusmali, Abral, Ayatullah I. Pengaruh derajat keasaman pH saliva terhjadap angka kejadian karies gigi (DMF-T) anak sekolah dasar umur 9-14 tahun 2018. Journal of Oral Health Care. 2019;7(1):24-31. Doi: 10.29238/ohc.v7i1.342

Downloads

Published

2026-01-06

How to Cite

Aldilawati, S., Abdi, M. J., & Salim, N. A. E. P. A. (2026). Perbandingan pH Saliva Setelah Mengonsumsi Buah Papaya (Carica papaya L.) dan Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus). E-GiGi, 14(2), 296–300. https://doi.org/10.35790/eg.v14i2.62819

Issue

Section

Articles