Hubungan antara Status Gizi dengan Maloklusi pada Remaja Usia 14-16 Tahun di SMAN 3 Tuminting

Authors

  • Enjelina F. Pangandaheng Universitas Sam Ratulangi
  • Pritartha S. Anindita Universitas Sam Ratulangi
  • Shirley E. S. Kawengain Universitas Sam Ratulangi

DOI:

https://doi.org/10.35790/eg.v14i1.65757

Keywords:

status gizi; maloklusi; IMT/U; remaja

Abstract

Abstract: Malocclusion, or crowded teeth, is frequently encountered across various age groups and can impact individual’s physical and mental health, including chewing function and facial aesthetics. In adolescents, nutritional status plays a role in the development of jaw structure and tooth positioning; however, scientific evidence regarding the relationship between the two still shows varied results. This study aimed to analyze the relationship between nutritional status and the occurrence of malocclusion in adolescents. This was an analytical and observational study with a cross-sectional design. Respondents were 70 adolescents aged 14-16 years at SMA Negeri 3 Tuminting (Senior high school). The results showed that the most frequent age group was 15 years (41.4%), and female students were predominant (58.6%). Most respondents had malocclusion (91.4%). Most repondents had normal nutritional status (68.5%), followed by overweight (14.3%), and underweight and obesity (each of 8.6%). The Fisher’s exact test showed that there was no significant relationship between nutritional status and malocclusion (p=0.657), and the majority of respondents with malocclusion had normal nutritional status. In conclusion, there is no significant relationship between nutritional status based on BMI-for-age and the occurrence of malocclusion among adolescents.

Keywords: nutritional status; malocclusion; BMI-for-age; adolescents

 

Abstrak: Maloklusi atau gigi berjejal merupakan masalah yang sering ditemui di berbagai kelompok usia, dan dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental seseorang, termasuk fungsi pengunyahan dan estetika wajah. Pada remaja, status gizi berperan dalam perkembangan struktur rahang dan posisi gigi, tetapi bukti ilmiah mengenai hubungan keduanya masih menunjukkan hasil beragam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi berdasarkan IMT/U dengan kejadian maloklusi pada remaja usia 14–16 tahun. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Responden penelitian ialah 70 remaja usia 14–16 tahun di SMA Negeri 3 Tuminting. Hasil penelitian mendapatkan kelompok usia terbanyak ialah 15 tahun (41,4%) dan jenis kelamin perempuan (58,6%). Sebagian besar responden mengalami maloklusi (91,4%). Responden terbanyak dengan status gizi normal (68,5%), diikuti status gizi gemuk (14,3%), dan status gizi kurus dan obesitas (masing-masing 8,6%). Hasil analisis Fisher’s exact test menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara status gizi dan maloklusi (p=0,657), dan mayoritas remaja yang mengalami maloklusi memiliki status gizi normal. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan bermakna antara status gizi berdasarkan IMT/U dengan kejadian maloklusi pada remaja.

Kata kunci: status gizi; maloklusi; IMT/U; remaja

Author Biographies

Enjelina F. Pangandaheng, Universitas Sam Ratulangi

Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado, Indonesia

Pritartha S. Anindita, Universitas Sam Ratulangi

Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado, Indonesia

Shirley E. S. Kawengain, Universitas Sam Ratulangi

Bagian Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado, Indonesia

References

1. Tumurkhuu T, Fujiwara T, Komazaki Y, Kawaguchi Y, Tanaka T, Inazawa J, et al. Association between maternal education and malocclusion in Mongolian adolescents: a cross-sectional study. BMJ Open. 2016;6(11):12283. Doi: https://doi.org/10.1136/bmjopen-2016-012283

2. Kragt L, Dhamo B, Wolvius EB, Ongkosuwito EM. The impact of malocclusions on oral health-related quality of life in children—a systematic review and meta-analysis. Clin Oral Investig. 2016;20(8):1881-94. Doi: https://doi.org/10.1007/s00784-015-1681-3

3. Dutra SR, Pretti H, Martins MT, Bendo CB, Vale MP. Impact of malocclusion on the quality of life of children aged 8 to 10 years. Dent Press Journal Orthodontic. 2018;23(2):46–53. Doi: https://doi.org/10.1590/2177-6709.23.2.046-053.oar

4. Sambeta DC, Anindita PS, Juliatri. Pengaruh maloklusi gigi anterior terhadap status psikososial pada siswa SMA Negeri 1 Luwuk. e-GiGi. 2016;4(1):59-63. Doi: https://doi.org/10.35790/eg.4.1.2016.12207

5. Bishara SE. Textbook of Orthodontics. Philadelphia, Pa.: Saunders; 2001. p. 63–84. Available from: https://lib.zu.edu.pk/ebookdata/Dentistry/Bishara.pdf

6. Moyers RE, Moyers RE. Handbook of Orthodontics (4th ed). Chicago: Year Book Medical Publishers; 1988. p. 525-77. Available from: https://www.scribd.com/document/379064728/Handbook-of-Orthodntics

7. Singh G, editor. Textbook of Orthodontics (3rd ed). New Delhi: Jaypee Brothers Med. Publ; 2015. p. 28–52. Doi: https://doi.org/10.5005/jp/books/10936

8. Ibraheem MA, Nahidh M. Diet and orthodontics- a review. J Baghdad Coll Dent. 2021;33(3):8-30. Doi: https://doi.org/10.26477/jbcd.v33i3.2951

9. Peraturan Menteri Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 2 Tentang Standar Antropometri Anak. Jakarta; 2020. Available from: https://peraturan.bpk.go.id/Details/152505/permenkes-no-2-tahun-2020

10. Dermawan ACH, Fitriana A, Alioes Y. Hubungan status gizi terhadap kesejajaran gigi anterior mandibula berdasarkan pengukuran Little’s irregularity index pada siswa SMPN 5 Padang. Cakradonya Dent J. 20184;9(1):4-50. Doi: https://doi.org/10.24815/cdj.v9i1.9878

11. Anindita PS, Zuliari K, Nanlessy SM. Prevalensi maloklusi pada anak usia 9-12 tahun di daerah pesisir Kota Manado. e-GiGi. 2024;12(1):137-41. Doi: https://doi.org/10.35790/eg.v12i2.50386

12. Anan M, Antoro B, Septriawan R, Wahyuni D. Penyuluhan akan pentingnya pendidikan bagi masyarakat pesisir Kecamatan Teluk Mengkudu. Communnity Dev J. 2023;4(5):9-14. Available from: https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/cdj/article/download/21185/15459/70152

13. Nix S, editor. Williams’ Basic Nutrition & Diet Therapy (12th ed). St. Louis, MO: Elsevier Mosby; 2005. p. 2. Available from: https://www.amazon.com/Williams-Basic-Nutrition-Diet-Therapy/dp/0323749801

14. Erliera, Alamsyah RM, Harahap NZ. Hubungan status gizi dengan kasus gigi berjejal pada murid SMP Kecamatan Medan Baru. Dentika Dent J. 2015;18(3):242-6. Doi: https://doi.org/10.32734/dentika.v18i3.1960

15. Roesianto A, Suwindere W, Sembiring LS. Hubungan Index Massa Tubuh/Umur (IMT/U) dengan crowding anterior pada anak usia 10-12 tahun. Padjadjaran J Dent Res Stud. 2018;2(2):95. Available from: https://jurnal.unpad.ac.id/pjdrs/article/view/22512/10758

16. Dohou GAM, El Haddaoui R, Apila CL, Zaoui F, Bahoum A. Relationship between malocclusion and obesity: a cross-sectional study in the Moroccan population. Mediterr J Integr Med Sci. 2021;8:ID 422. Doi: https://doi.org/10.15342/ijms.2021.422

17. Andries AM, Anindita PS, Gunawan PN. Hubungan antara Gigi Berjejal dan Status Gizi pada Remaja. e-GiGi. 2021;9(1):8-14. Doi: https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/egigi

Downloads

Published

2026-01-03

How to Cite

Pangandaheng, E. F., Anindita, P. S., & Kawengain, S. E. S. (2026). Hubungan antara Status Gizi dengan Maloklusi pada Remaja Usia 14-16 Tahun di SMAN 3 Tuminting. E-GiGi, 14(1), 271–276. https://doi.org/10.35790/eg.v14i1.65757

Issue

Section

Articles