Analisis Data Pasang Surut Menggunakan Metode Least Square Di Pantai Tanjung Labuo Bohabak II, Kec. Bolangitang Timur Kab. Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi Utara

Authors

  • Alejandro Akay Universitas Sam Ratulangi
  • Arthur H. Thambas Universitas Sam Ratulangi
  • Ariestides K. T. Dundu Universitas Sam Ratulangi
  • Jeffry D. Mamoto Universitas Sam Ratulangi
  • Muhammad I. Jasin Universitas Sam Ratulangi
  • Cindy J. Supit Universitas Sam Ratulangi

DOI:

https://doi.org/10.35793/jts.v23i93.64741

Abstract

Permukaan air laut yang berbatasan dengan pantai tidak pernah memiliki nilai ketinggian yang tetap melainkan bergerak naik turun dengan periode siklus yang berbeda. Hal ini disebabkan pengaruh gaya tarik benda-benda langit terutama gaya tarik bulan dan matahari terhadap bumi. Meskipun massa matahari jauh lebih besar dari massa bulan, namun gaya pembangkit yang dihasilkan bulan jauh lebih besar, yakni sebesar 53% dari total gaya keseluruhan sebagai akibat jaraknya yang lebih dekat. Faktor non astronomi seperti bentuk garis pantai dan topografi dasar perairan juga menentukan jenis pasang surut disuatu perairan. Secara administratif daerah pantai Tanjung Labuo berada pada koordinat 0° 53′ 19.5″ N, 123° 26′ 59.32″ E, dengan Kecamatan BolangItang Timur memiliki total luas daerah seluas 413,43 km2. Keterbatasan informasi terkait pasang surut di perairan Tanjung Labuo dapat dipenuhi menggunakan metode least square dalam hal penentuan karakteristik pasang surut seperti mencari tipe pasang surut, elevasi muka air laut dan peramalan pasang surut yang ada di sekitar perairan Tanjung Labuo. Penelitian ini menggunakan data pasang surut selama 15 hari yaitu pada bulan Juli tahun 2025 dari website Badan Informasi Geospasial. Dengan menguraikan 10 komponen harmonik pasang surut menggunakan program MOD-LSQ (metode least square) akan di dapat amplitudo, elevasi muka air laut dan mencari bilangan formzahl untuk menentukan tipe pasang surut. Hasil penelitian mendapatkan elevasi muka air dengan nilai So (-0,081), M2 (5,56), S2 (2,17), N2 (0,72), K1 (1,679), M4 (0,13), O1 (1,279), P1 (0,396), K2 (2,339), dan MS4 (0,07) berupa nilai amplitudo dan fase, dan nilai elevasi muka air. HHWL (12.2052), MHWS (10.1743), MHWL (4.0706), MSL (-.0805), MLWL (-3.9966), MLWS (-9.0193), LLWL (-11.9119). Nilai F dalam penelitian ini yaitu 0,385 dimana hal ini memenuhi klasifikasi pasang surut F>0.25 <1.5 yang menunjukan bahwa Pantai Tanjung Labuo memiliki tipe pasang surut Campuran, condong ke semi diurnal. Dalam 1 hari terjadi 2 kali air pasang dan 2 kali air surut dengan ketinggian dan periode yang berbeda.

 

Kata kunci: pasang surut, Perairan Tanjung Labuo, metode least square

Author Biography

Alejandro Akay, Universitas Sam Ratulangi

Permukaan air laut yang berbatasan dengan pantai tidak pernah memiliki nilai ketinggian yang tetap melainkan bergerak naik turun dengan periode siklus yang berbeda. Hal ini disebabkan pengaruh gaya tarik benda-benda langit terutama gaya tarik bulan dan matahari terhadap bumi. Meskipun massa matahari jauh lebih besar dari massa bulan, namun gaya pembangkit yang dihasilkan bulan jauh lebih besar, yakni sebesar 53% dari total gaya keseluruhan sebagai akibat jaraknya yang lebih dekat. Faktor non astronomi seperti bentuk garis pantai dan topografi dasar perairan juga menentukan jenis pasang surut disuatu perairan. Secara administratif daerah pantai Tanjung Labuo berada pada koordinat 0° 53′ 19.5″ N, 123° 26′ 59.32″ E, dengan Kecamatan BolangItang Timur memiliki total luas daerah seluas 413,43 km2. Keterbatasan informasi terkait pasang surut di perairan Tanjung Labuo dapat dipenuhi menggunakan metode least square dalam hal penentuan karakteristik pasang surut seperti mencari tipe pasang surut, elevasi muka air laut dan peramalan pasang surut yang ada di sekitar perairan Tanjung Labuo. Penelitian ini menggunakan data pasang surut selama 15 hari yaitu pada bulan Juli tahun 2025 dari website Badan Informasi Geospasial. Dengan menguraikan 10 komponen harmonik pasang surut menggunakan program MOD-LSQ (metode least square) akan di dapat amplitudo, elevasi muka air laut dan mencari bilangan formzahl untuk menentukan tipe pasang surut. Hasil penelitian mendapatkan elevasi muka air dengan nilai So (-0,081), M2 (5,56), S2 (2,17), N2 (0,72), K1 (1,679), M4 (0,13), O1 (1,279), P1 (0,396), K2 (2,339), dan MS4 (0,07) berupa nilai amplitudo dan fase, dan nilai elevasi muka air. HHWL (12.2052), MHWS (10.1743), MHWL (4.0706), MSL (-.0805), MLWL (-3.9966), MLWS (-9.0193), LLWL (-11.9119). Nilai F dalam penelitian ini yaitu 0,385 dimana hal ini memenuhi klasifikasi pasang surut F>0.25 <1.5 yang menunjukan bahwa Pantai Tanjung Labuo memiliki tipe pasang surut Campuran, condong ke semi diurnal. Dalam 1 hari terjadi 2 kali air pasang dan 2 kali air surut dengan ketinggian dan periode yang berbeda.

 

Kata kunci: pasang surut, Perairan Tanjung Labuo, metode least square

Downloads

Published

2025-10-31

Issue

Section

Articles