Desain Cerucuk Bambu Sebagai Perkuatan Timbunan Pada Tanah Lunak Untuk Konstruksi Bangunan Kantor
DOI:
https://doi.org/10.35793/jts.v23i94.65777Abstract
Pembangunan infrastruktur pada tanah lunak, seperti di lokasi rencana pembangunan kantor di Desa Pentadu Timur, Kabupaten Boalemo, menghadapi kendala utama berupa daya dukung rendah dan kompresibilitas tinggi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas dua metode perkuatan timbunan—penimbunan bertahap dan Geosynthetic Reinforced Piled Embankment (GRPE)—dengan memanfaatkan cerucuk bambu sebagai material lokal. Parameter tanah diperoleh melalui korelasi data uji sondir. Analisis dilakukan melalui perhitungan analitis mengacu pada BS 8006-1:2010, serta pemodelan numerik menggunakan Settle3D untuk penurunan, SLOPE/W untuk stabilitas lereng, dan PLAXIS 2D untuk validasi deformasi. Hasil analisis penimbunan bertahap setinggi 3 m menunjukkan derajat konsolidasi yang sangat rendah (8,20%) dengan total penurunan 393,19 mm (manual) dan 362,54 mm (Settle3D). Faktor keamanan lereng menurun signifikan dari 2,812 pada tahap pertama menjadi 1,516 pada tahap ketiga. Sebaliknya, penerapan sistem GRPE dengan cerucuk bambu (panjang 8 m, diameter ekuivalen 0,21 m, spasi 1,04 m) mampu meningkatkan stabilitas dan mereduksi penurunan secara signifikan. Analisis numerik menunjukkan faktor keamanan akhir sebesar 1,512, memenuhi kriteria SF > 1,5. Cerucuk bambu juga efektif mentransfer beban ke lapisan tanah yang lebih dalam sehingga membatasi deformasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa GRPE berbasis cerucuk bambu lebih unggul dibandingkan penimbunan bertahap konvensional, karena mampu mempercepat waktu konstruksi sekaligus menjaga stabilitas dan penurunan dalam batas yang diizinkan.
Kata kunci: tanah lunak, timbunan, Geosynthetic Reinforced Piled Embankment (GRPE), cerucuk bambu