Analisis Kestabilan Lereng Akibat Perubahan Tata Guna Lahan Pada Kawasan Perumahan Di Kota Manado

Authors

  • Josia M. Takaendengan Universitas Sam Ratulangi
  • Alva N. Sarajar Universitas Sam Ratulangi
  • Roski R. I. Legrans Universitas Sam Ratulangi

DOI:

https://doi.org/10.35793/ckdda859

Abstract

Pengembangan kawasan perumahan pada lahan dengan sebagian area berupa lereng berpotensi menimbulkan ketidakstabilan akibat perubahan tata guna lahan, peningkatan beban, dan kondisi hidrolis yang dinamis. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi stabilitas lereng alami serta efektivitas desain rekayasa geometri galian melalui pendekatan komparatif antara Limit Equilibrium Method (LEM) menggunakan GeoStudio dan Finite Element Method (FEM) menggunakan PLAXIS 2D. Analisis LEM mencakup kondisi statis, infiltrasi, beban struktural, elevasi muka air tanah, dan beban seismik, sedangkan analisis FEM difokuskan pada stabilitas dan deformasi akibat pemotongan, pembebanan, serta pengaruh gempa. Evaluasi dilakukan berdasarkan standar SNI 8460:2017, dengan kriteria Faktor Keamanan (FK) statis > 1,5 dan dinamis > 1,1. Hasil simulasi LEM menunjukkan bahwa Lereng Eksisting 1 dalam kondisi alami maupun pasca-pemotongan tergolong stabil pada seluruh skenario, dengan FK statis terendah 2,138 dan dinamis 1,196. Sebaliknya, Lereng Eksisting 2 mengalami kondisi kritis saat infiltrasi hujan pada jam ke-1, di mana FK menurun menjadi 1,425 (< 1,5). Penerapan metode pemotongan (cutting) pada Lereng Eksisting 2 meningkatkan stabilitas terhadap beban perumahan dan infiltrasi (FK statis minimum 1,586), namun tidak mampu menahan beban dinamis gempa dengan FK turun menjadi 1,016 (< 1,1). Pemodelan FEM memvalidasi hasil LEM sekaligus memperlihatkan perilaku deformasi tanah. Pada Lereng Eksisting 1, nilai FK dan deformasi berturut-turut tercatat 2,388 dan 0,0008 mm (alami); 2,251 dan 0,0007 mm (pasca-cutting); 2,129 dan 1,805 mm (pasca-cut + beban); serta deformasi maksimum meningkat hingga 41,18 mm saat gempa. Pada Lereng Eksisting 2, FK dan deformasi tercatat 1,428 dan 0,2089 mm (alami); 1,633 dan 0,0663 mm (pasca-cut); 1,580 dan 1,931 mm (pasca-cut + beban); dan FK menurun menjadi 1,206 dengan deformasi 37 mm saat gempa. Hasil ini menunjukkan bahwa terasering efektif mengatasi infiltrasi dan beban statis, namun kerentanan Lereng Eksisting 2 terhadap beban dinamis mengindikasikan perlunya struktur penahan tanah tambahan sebagai mitigasi terhadap pengaruh gempa.

 

Kata kunci: stabilitas lereng, faktor keamanan, deformasi, galian, infiltrasi hujan

Downloads

Published

2026-09-21

Issue

Section

Articles