GELANDANGAN SHELTER DI MALANG GAGASAN “ORDER AND DISORDER” DALAM ARSITEKTUR

Helsi M. Tamboto, Michael M. Rengkung, Alvin J. Tinangon

Abstract


Fenomena gelandangan merupakan salah satu permasalahan serius yang ada di Kota Malang. Mereka bergelandangan serta mengemis-ngemis terhadap warga. Kehadiran mereka dapat dengan mudah ditemui di beberapa titik di kota Malang, terutama di pusat-pusat keramaian.

Upaya pembinaan terhadap gelandangan atau gelandangan dan pengemis (gepeng) di kotaMalang sering terkendala oleh karena ketiadaan tempat penampungan yang cukup layak. Setiap dilakukan pembinaan, pada akhirnya mereka akan kembali berkeliaran di jalan. Hal ini disebabkan belum adanya shelter atau tempat penampungan di kota Malang yang mampu menampung mereka dengan ketersediaan fasilitas untuk gelandangan dalam jumlah yang besar sehingga upaya pembinaan tidak maksimal.

Gelandangan merupakan fenomena sosial yang tidak bisa dihindari dan tak akan habisnya dalam suatu kota besar maupun kota yang berkembang. Oleh karena itu, “Gelandangan Shelter” merupakan sarana yang cocok untuk mengatasi fenomena gelandangan tersebut.Objek ini memiliki maksud yaitu untuk menghadirkan suatu shelter yang semenarik dan senyaman mungkin serta layak untuk ditempati agar para gelandangan di Kota Malang tertarik untuk tinggal dan dibina di tempat ini dan tidak berkeinginan lagi untuk kembali ke jalanan selama dalam masa pembinaan.

Untuk lebih memperkuat rancangan objek ini maka digunakanlah tema Gagasan Order and Disorderdalam Arsitektur sebagai wujud pentrasformasian tujuan dari objek rancangan ini, yaitu memasukkan unsur keteraturan atau order ke dalam diri para gelandangan yang biasanya menggelandang dan hidupnya tidak teratur atau disorder.

Dengan adanya objek ini, diharapkan potensi menjamurnya gelandangan dapat teratasi, sehingga dapat juga menopang naiknya tingkat kesejahteraan masyarakat di Kota Malang.

Kata Kunci: Gelandangan, Shelter, Order, Disorder.

Fenomena gelandangan merupakan salah satu permasalahan serius yang ada di Kota Malang. Mereka bergelandangan serta mengemis-ngemis terhadap warga. Kehadiran mereka dapat dengan mudah ditemui di beberapa titik di kota Malang, terutama di pusat-pusat keramaian.

Upaya pembinaan terhadap gelandangan atau gelandangan dan pengemis (gepeng) di kotaMalang sering terkendala oleh karena ketiadaan tempat penampungan yang cukup layak. Setiap dilakukan pembinaan, pada akhirnya mereka akan kembali berkeliaran di jalan. Hal ini disebabkan belum adanya shelter atau tempat penampungan di kota Malang yang mampu menampung mereka dengan ketersediaan fasilitas untuk gelandangan dalam jumlah yang besar sehingga upaya pembinaan tidak maksimal.

Gelandangan merupakan fenomena sosial yang tidak bisa dihindari dan tak akan habisnya dalam suatu kota besar maupun kota yang berkembang. Oleh karena itu, “Gelandangan Shelter” merupakan sarana yang cocok untuk mengatasi fenomena gelandangan tersebut.Objek ini memiliki maksud yaitu untuk menghadirkan suatu shelter yang semenarik dan senyaman mungkin serta layak untuk ditempati agar para gelandangan di Kota Malang tertarik untuk tinggal dan dibina di tempat ini dan tidak berkeinginan lagi untuk kembali ke jalanan selama dalam masa pembinaan.

Untuk lebih memperkuat rancangan objek ini maka digunakanlah tema Gagasan Order and Disorderdalam Arsitektur sebagai wujud pentrasformasian tujuan dari objek rancangan ini, yaitu memasukkan unsur keteraturan atau order ke dalam diri para gelandangan yang biasanya menggelandang dan hidupnya tidak teratur atau disorder.

Dengan adanya objek ini, diharapkan potensi menjamurnya gelandangan dapat teratasi, sehingga dapat juga menopang naiknya tingkat kesejahteraan masyarakat di Kota Malang.

Kata Kunci: Gelandangan, Shelter, Order, Disorder.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.