PUSAT KREATIVITAS SENI DAN BUDAYA MINAHASA DI TONDANO. Arsitektur Vernakular

Febrian Ch. Rembet, Cynthia E. V. Wuisang, Faizah Mastutie

Abstract


Batu adalah “rumah”. Kayu adalah “Rumah”. Tanah adalah “Rumah”. Gunung dan Lembah pun adalah “Rumah. Bahan dan tempat bukanlah merupakan suatu yang menentukan berdirinya sebuah “rumah”. Akal, cara berpikir, dan menentukan situasi adalah dasar utama dalam mendirikan sebuah “rumah”1. Dalam adat dan budaya, kita mewarisi segala hal yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita, yang mana salah satu dari antara warisan tersebut adalah karya arsitektur2. Implementasi dari budaya dan adat ke arsitektur adalah suatu karya yang mewarisi garis estafet nenek moyang dalam bertahan hidup dan meneruskan kehidupan. Di Sulawesi Utara sendiri, terdapat suatu bangsa yang bernama Minahasa. Orang Minahasa sendiri adalah orang-orang yang terikat akan budaya. Yang mana pasti mempengaruhi gaya arsitektur. Terdapat empat suku besar Minahasa yaitu, Tontemboan, Tombulu, Tolour, dan Tonsea yang memilik gaya arsitektur yang serupa, namun memiliki arti yang berbeda-beda. Arsitektur Vernakular menafsirkan suatu gaya arsitektur yang tidak lekang oleh adat dan budaya. Dengan segala keunikan dari daerah, ataupun memiliki suatu tradisi adat terlebih dahulu. Arsitektur Vernakular memiliki makna yaitu dalam membangun sesuatu haruslah menggunakkan adat dan budaya terebih dahulu. Seperti yang terjadi pada masyarakat Minahasa pada jaman dahulu, dimana mereka mendirikan rumah di tempat yang mereka diami pada waktu itu juga dengan memanfaatkan hasil alam yang ada di sekitar dan tradisi-tradisi yang harus dilakukan sebelum membangun rumah.

 

Kata Kunci: Rumah, Minahasa, Adat, Budaya, Vernakular


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.