Identifikasi dan Strategi Pengelolaan Tumbuhan Asing Invasif pada Kawasan Hutan PT Karya Lestari, Kalimantan Timur
Keywords:
tumbuhan asing invasif, keanekaragaman hayati, analisis risiko, fisibilitas pengelolaan, pengendalian invasifAbstract
Tumbuhan asing invasif dapat mengancam keanekaragaman hayati melalui pembentukan populasi dominan, penghambatan regenerasi tumbuhan lokal, serta perubahan struktur dan fungsi ekosistem. Identifikasi dan pengelolaan spesies invasif penting dilakukan, terutama pada kawasan hutan yang mengalami gangguan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tumbuhan asing invasif, menentukan tingkat risikonya, menilai fisibilitas pengelolaan, dan merumuskan rekomendasi pengendalian pada areal PBPH PT Karya Lestari, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Data dikumpulkan melalui metode jelajah dengan mencatat jenis, koordinat, dan informasi pendukung pada tally sheet. Identifikasi mengacu pada pedoman tumbuhan asing invasif di Indonesia, sedangkan penilaian risiko dan fisibilitas mempertimbangkan tingkat keinvasifan, dampak, distribusi, biaya pengendalian, dan persistensi spesies. Hasil penelitian menemukan 12 jenis tumbuhan asing invasif pada Petak F-22 RKT 2018 serta Petak G-23 dan G-24 RKT 2020. Melastoma malabathricum dan Merremia peltata memiliki risiko sangat tinggi, sedangkan Imperata cylindrica, Piper aduncum, Pluchea indica, dan Solanum torvum termasuk risiko sedang. M. malabathricum berpotensi mendominasi habitat tertentu, sementara M. peltata mampu menekan vegetasi hutan melalui pertumbuhan agresif. Dari aspek fisibilitas, Crassocephalum crepidioides termasuk kategori sangat tinggi dan Clidemia hirta kategori tinggi. Pengelolaan dilakukan melalui penebasan, penanaman jenis lokal, pemasangan papan informasi, dan monitoring berkala. Integrasi risiko dan fisibilitas dapat membantu menentukan prioritas pengendalian secara efisien. Setelah pengelolaan, beberapa jenis mengalami penurunan populasi dan lima jenis tidak lagi ditemukan. Pengelolaan berkelanjutan tetap diperlukan untuk mencegah pemulihan populasi invasif dan mendukung regenerasi tumbuhan lokal.