PENATAAN PERMUKIMAN BERBASIS ASPEK KERENTANAN DAN KAPASITAS UNTUK MITIGASI RISIKO BANJIR DI MUARA SUNGAI BAILANG, KOTA MANADO
DOI:
https://doi.org/10.35793/0c8bnf60Abstract
Abstrak
Kawasan muara Sungai Bailang, Kota Manado, memiliki risiko banjir tinggi akibat permukiman
padat di sempadan sungai. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kerentanan, kapasitas
kawasan, pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) prasarana, serta merumuskan konsep
penataan permukiman berbasis mitigasi bencana. Metode penelitian menggunakan pendekatan
deskriptif kuantitatif-kualitatif berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan acuan PERKA
BNPB No. 2 Tahun 2012, Sendai Framework (SFDRR), dan standar Kementerian PUPR. Hasil
analisis menunjukkan variasi kerentanan spasial serta ketidaksesuaian SPM prasarana jalan,
drainase, limbah, dan sampah yang memperparah dampak banjir. Penataan kawasan diarahkan
melalui pendekatan Kampung Improvement Program (KIP) yang mengintegrasikan mitigasi
struktural dan non-struktural berdasarkan tiga skala prioritas: Prioritas I (Lingkungan V), Prioritas
II (Lingkungan I dan IV), serta Prioritas III (Lingkungan III). Rekomendasi utama meliputi
perbaikan dimensi drainase, pembangunan tanggul sungai, penguatan sistem peringatan dini, dan
peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.
Kata Kunci: Penataan Permukiman, Kerentanan, Kapasitas, Mitigasi Banjir, Kampung
Improvement Program (KIP)
Abstract
The estuary area of the Bailang River, Manado City, faces high flood risks due to dense settlements
along the riverbanks. This study aims to analyze vulnerability, capacity, and infrastructure
Minimum Service Standards (SPM) compliance, and to formulate a settlement planning concept
based on disaster mitigation. The research applies a descriptive quantitative-qualitative approach
integrated with Geographic Information Systems (GIS), referencing PERKA BNPB No. 2 of 2012,
the Sendai Framework (SFDRR), and Ministry of PUPR standards. The results reveal spatial
vulnerability variations and infrastructure SPM non-compliance (roads, drainage, wastewater,
and solid waste) that worsen flood impacts. The spatial arrangement is directed through the
Kampung Improvement Program (KIP) approach, integrating structural and non-structural
mitigation across three priority scales: Priority I (Neighborhood V), Priority II (Neighborhoods I
and IV), and Priority III (Neighborhood III). Key recommendations include reshaping drainage
dimensions, constructing river dikes, strengthening early warning systems, and enhancing
community preparedness.
Keywords: Settlement Planning, Vulnerability, Capacity, Flood Mitigation, Kampung
Improvement Program (KIP).