Status of Seagrass Beds in the Waters around Bahowo, Tongkaina Village, Manado City North Sulawesi Province

Authors

  • Festy Togolo Sam Ratulangi University
  • Febry S. I Menajang Sam Ratulangi University
  • Fransine B Manginsela Sam Ratulangi University
  • Khristin I. F Kondoy Sam Ratulangi University
  • Ridwan Lasabuda Sam Ratulangi University
  • Joshian N Schaduw Sam Ratulangi University

Keywords:

Seagrass Status, Cover, Seagrass, Bahowo

Abstract

This research was conducted in November 2021 in the waters around Bahowo, Tongkaina Village, Manado City, North Sulawesi Province. Seagrass sampling was carried out using a random sampling method (randomly) with a quadratic transect drawn perpendicular to the shoreline. Thus, 6 species of seagrass were obtained, namely Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Thalassodendron ciliatum, Thalassia hemprichii, Syringodium isoetifolium and Halodule pinifolia, with various aquatic environmental conditions. The results of the analysis of the status of the seagrass beds obtained that the seagrass cover value was 50.20% which was included in the "moderate" category, while the seagrass cover per species was Thalassia hemprichii species with the highest cover found was 30.08%, Enhalus acoroides was 21.49% , Halophila ovalis was 6.84%, Thalassodendron ciliatum was 17.39%, Syringodium isoetifolium was 12.31% and Halodule pinifolia was the least common type was 2.35%. The density value of Enhalus acoroides seagrass is 48.375 ind/m2, Halophila ovalis is 14.5 ind/m2, Thalassodendron ciliatum is 35,475 ind/m2, Thalassia hemprichii species with the highest density is 67.25 ind/m2, Syringodium isoetifolium is 27.875 ind/m2 and Halodule pinifolia species density is at least 5.25 ind/m2. The status of the seagrass beds was categorized as "unhealthy" with an average seagrass cover value of 50.20%.

Keywords: Seagrass Status, Cover, Seagrass, Bahowo

 

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2021 di Perairan Sekitar Bahowo, Kelurahan Tongkaina, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara. Pengambilan sampel lamun dilakukan menggunakan metode random sampling (secara acak) dengan transek kuadrat yang ditarik tegak lurus garis pantai. sehingga diperoleh 6 jenis lamun yaitu Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Thalassodendron ciliatum, Thalassia hemprichii, Syringodium isoetifolium dan Halodule pinifolia, dengan kondisi lingkungan perairan yang beragam. Hasil dari analisis status padang lamun diperoleh nilai tutupan lamun adalah 50,20% termasuk ke dalam kategori “sedangâ€, sedangkan tutupan lamun per jenis yaitu Thalassia hemprichii jenis dengan tutupan yang tertinggi dijumpai adalah 30,08%, Enhalus acoroides adalah 21,49%, Halophila ovalis adalah 6,84%, Thalassodendron ciliatum adalah 17,39%, Syringodium isoetifolium adalah 12,31% dan Halodule pinifolia jenis yang paling sedikit ditemukan adalah 2,35%. Nilai kerapatan lamun Enhalus acoroides adalah 48,375 ind/m2, Halophila ovalis adalah 14,5 ind/m2, Thalassodendron ciliatum adalah 35,475 ind/m2, Thalassia hemprichii jenis kerapatannya paling tinggi adalah 67,25 ind/m2, Syringodium isoetifolium adalah 27,875 ind/m2 dan Halodule pinifolia jenis kerapatannya paling sedikit adalah 5,25 ind/m2. Status padang lamun dikategorikan dalam kondisi “kurang sehat†dengan nilai rata-rata penutupan lamun adalah 50,20%.  

Kata kunci: Status Padang Lamun, Tutupan, Lamun, Bahowo

References

Anggraini, K. 2013 Mengenal Ekonomi Perairan. Jakarta. Grasindo.

Bengen D.G. 2001. Ekologi dan Sumberdaya Pesisir dan Laut Serta Pengelolaannya Secara Terpadu dan Berkelanjutan. Prosiding Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPBL)-IPB. Bogor.

Bengkal, K.P., Manembu, I.S., Sondak, C.F.A., Wagey, B. Th., Schaduw, J.N.W. dan Lumingas, L.J.L. 2019. Identifikasi keanekaragaman lamun dan ekinodermata dalam upaya konservasi. Jurnal Pesisir dan Laut Tropis 1(1): 29-39.

Dahuri, R. 2001. Pengelolaan sumber daya wilayah pesisir dan lautan secara terpadu. PT. Pradnya Paramita. Jakarta.

Effendi, H. 2003. Telaan Kualitas Air: Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Penerbit Kanisus. Yogyakarta 257 hal.

Fardiaz, S. 1992. Populasi Air dan Udara. Kanisius, Yogyakarta.

Green, E.P. and Short, F.T. 2003. World Atlas of Seagrass. Prepared by the UNEP World Conservation Monitoring Centre University of CaliforniaPress. Berkeley: USA.

Hasanuddin, R. (2013). Hubungan Antara Kerapatan Dan Morfometrik Lamun Enhalus Acoroides Dengan Substrat Dan Nutrien Di Pulau Sarappo Lompo Kab. Pangkep. Skripsi. Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan Universitas Hasanuddin. Makassar.

Hermawan, U.E, Sjafrie, N.D.M., Supriyadi, I.H., Suyarso., Iswari, M.Y., Agrraini, K. dan Rahmat. (2017). Status Padang Lamun Indonesia 2017. Jakarta: Puslit Oseanografi-LIPI Jakarta 23 hal.

Hoek, F., Razak, A., Hamid, H., Muhfizar, M., Suruwaky, A. M., Ulat, M. A., & Arfah, A. (2016). Struktur Komunitas Lamun di Perairan Distrik Salawati Utara Kabupaten Raja Ampat. Jurnal Airaha, 5(1), 087-095.

Kenworthy WJ, Wyllie-Echeverria S, Coles RG, Pergent G, Martini CP. 2006. Seagrass Conservation Biology: An Interdisciplinary Science for Protection of the Seagrass Biome. Di dalam Larkum AWD, Orth RJ, Duarte CM (eds) Seagrasses: Biology, Ecology and Conservation. hlm 595-623. Springer. Netherlands.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. (2004). Keputusan Menteri Negara dan Lingkungan Hidup No. 200 tahun 2004 tentang, Kriteria Baku Kerusakan dan Pedoman Penentuan Status Padang Lamun. 16 hal.

Rahmawati, S. Irawan, Andri. Indarto. Supriyadi, Happy. Azkab, Muhammad Husni. 2017. Panduan Pemantauan Penilaian Kondisi Padang Lamun. Jakarta: COREMAP CTI LIPI.

Rustam, A., Kepel, T. L., Kusumaningtyas, M. A., Ati, R. N. A., Daulat, A., Suryono, D. D., ... & Hutahaean, A. A. (2016). Ekosistem lamun sebagai bioindikator lingkungan di P. Lembeh, Bitung, Sulawesi Utara. Jurnal Biologi Indone sia, 11(2).

Nybakken JW., 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Penerbit PT. Gramedia Jakarta.

Rochmady, R. 2010. Rehabilitasi ekosistem padang lamun. Program Pascasarjana, Universitas Hasanuddin. Makassar. 25 hal.

Widodo. E., A. Paratomo Dan C. J. Koenawan. 2013. Keanekaragaman Jenis Dan Pola Sebaran Lamun Di Perairan Teluk Dalam Kabupaten Bintan. Universitas Maritim Raja Ali Haji.Tanjung pinang.

Wagey, B. T., dan Sake, W. (2013). Variasi Morfometrik Beberapa Jenis Lamun Di Perairan Kelurahan Tongkeina Kecamatan Bunaken. Jurnal Pesisir dan Laut Tropis, 1(3), 36-44.

Yunitha, A., Wardiatno, Y., & Yulianda, F. (2014). Diameter substrat dan jenis lamun di pesisir Bahoi Minahasa Utara: sebuah analisis korelasi. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 19(3), 130- 135.

Downloads

Published

2022-10-09