Prioritas Peruntukan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Distribusi Suhu Permukaan di Kota Palu

Authors

  • Fachrul Patawari Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Sam Ratulangi
  • Amanda Sembel Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Sam Ratulagi
  • Fela Warouw

DOI:

https://doi.org/10.35793/matrasain.v22i1.62232

Keywords:

RTH, Urban Heat Island, Suhu Permukaan, Kerapatan Vegetasi, Kenyamanan Termal.

Abstract

Alih fungsi penggunaan lahan dan berkurangnya area vegetasi terjadi akibat urbanisasi yang pesat, yang secara
signifikan berkontribusi pada peningkatan suhu di kawasan perkotaan (Fardani, 2022). Kehadiran RTH di
kawasan perkotaan sangat erat kaitannya dengan mitigasi efek pulau panas (Urban Heat Island).Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor prioritas peruntukan Ruang Terbuka Hijau (RTH) berdasarkan
distribusi suhu permukaan dan menganalisis arahan pengembangan ruang terbuka hijau di Kota Palu. Metode
penelitian ini adalaha deskriptif kuantitaif dengan merumuskan suhu permukaan dan indeks kerapatan vegetasi,
serta mempertimbangkan kenyamanan termal dan kepadatan penduduk. Teknik overlay berbobot digunakan untuk
mengidentifikasi wilayah dengan prioritas tinggi dalam pengembangan RTH. Hail penelitian ini menujukkan
sebagian besar wilayah Kota Palu tergolong non-prioritas (kelas 1–3) dengan luas 35.321,99 ha (90%). Zona
prioritas pertama (kelas 5) seluas 2.544,75 ha (6,48%) dan prioritas kedua (kelas 4) 1.384,50 ha (3,53%). Empat
kecamatan yaitu Palu Selatan, Tatanga, Palu Barat, dan Palu Timur menyumbang 85,3% dari total luasan prioritas.
Wilayah ini memiliki suhu tinggi, kenyamanan termal rendah, vegetasi jarang, dan kepadatan penduduk tinggi.
Kondisi ini menjadi dasar penting dalam perencanaan pengembangan RTH strategis. Arahan pengembangan RTH
difokuskan pada integrasi penghijauan di lahan terbangun, penyediaan RTH di lahan terbuka, dan peningkatan
kualitas pada RTH eksisting. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam upaya mitigasi perubahan
iklim dan peningkatan kualitas lingkungan perkotaan di Kota Palu.

 

Land use conversion and the reduction of vegetated areas occur as a result of rapid urbanization, which significantly contributes to rising temperatures in urban areas (Fardani, 2022). The presence of green open spaces (GOS) in urban areas is closely related to the mitigation of the Urban Heat Island effect. This study aims to analyze the priority factors for green open space allocation based on surface temperature distribution and to examine development guidelines for green open space in the city of Palu. This research employs a descriptive quantitative method by formulating surface temperature and vegetation density index, while also considering thermal comfort and population density. A weighted overlay technique is used to identify areas with high priority for GOS development. The findings show that most areas in Palu are categorized as non-priority (classes 1–3), covering an area of 35,321.99 hectares (90%). The highest priority zone (class 5) covers 2,544.75 hectares (6.48%), while the second priority zone (class 4) covers 1,384.50 hectares (3.53%). Four districts are South Palu, Tatanga, West Palu, and East Palu contribute 85.3% of the total high-priority area. These areas are characterized by high temperatures, low thermal comfort, sparse vegetation, and high population density. These conditions serve as a critical foundation for the strategic planning of GOS development. The recommended strategies focus on integrating greenery into built-up areas, providing GOS in open lands, and improving the quality of existing green spaces. This study is expected to serve as input for climate change mitigation efforts and the improvement of urban environmental quality in Palu.

References

Achsan, A. C., Rizkhi, R., & Awalia, R. (2019). Perencanaan Lanskap Kawasan Perkotaan Kota Palu Berbasis Mitigasi Temperatur Permukaan Lahan. Jurnal Belantara, 2(1), 43–52.

Aditiyanti, A. H., Sabri, L. M., & Sasmito, B. (2013). Analisis Pengaruh Perubahan Ndvi Dan Tutupan Lahan Terhadap Suhu Permukaan Di Kota Semarang. Jurnal Geodesi Undip Agustus, 2(3).

Alisjahbana, A. S., & Murniningtyas, E. (2018). Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia: Konsep, Target dan Strategi Implementasi (Cetakan ke 1). Unpad Press.

BAPPEDA Kota Palu. (2021). RPJMD Kota Palu Tahun 2021-2026.

B, F. M., Pattipeilohy, W. J., & Virgianto, R. H. (2019). Kenyamanan Termal Klimatologis Kota-Kota Besar di Pulau Sulawesi Berdasarkan Temperature Humidity Index (THI). Jurnal Saintika Unpam : Jurnal Sains Dan Matematika Unpam, 1(2), 202

Danoedoro, P. (2012). Pengantar penginderaan jauh digital. In Penerbit Andi, Yogyakarta. Penerbit Andi.

Emmanuel, R. (2005). Thermal comfort implications of urbanization in a warm-humid city: the Colombo Metropolitan Region (CMR), Sri Lanka. Building and Environment, 40(12), 1591–1601

Fardani, I., & Yosliansyah, M. R. (2022). Kajian Penentuan Prioritas Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Fenomena Urban Heat Island di Kota Cirebon. Jurnal Sains Informasi Geografi, 5(2), 93.

Hanifah, M., Eryani, D., & Yulita, N. (2019). Tata lanskap terhadap kenyamanan termal berdasarkan indeks THI pada Taman Singha Merjosari Kota Malang. Jurnal Mahasiswa Arsitektur, 6(4), 1–10.

Humaida, N. (2016). Metode Penentuan Prioritas Ruang Terbuka Hijau di Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan. Institut Teknologi Bogor

Johan Iskandar, & Budiawati S. Iskandar. (2016). Arsitektur Tumbuhan; Struktur Pekarangan Pedesaan dan Ruang Terbuka Hijau Perkotaan (Pertama). Teknosain.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2024). Standar Khusus Pengembangan Ruang Terbuka Hijau.

Klompmaker, J. O., Hoek, G., Bloemsma, L. D., Gehring, U., Strak, M., Wijga, A. H., van den Brink, C., Brunekreef, B., Lebret, E., & Janssen, N. A. H. (2018). Green space definition affects associations of green space with overweight and physical activity. Environmental Research, 160, 531–540.

Naresha Praditya Saputri. (2021). Kenyamanan Termal Ruang Terbuka hHjau Universitas Lampung. Universitas Lampung.

Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2022 Tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau.

PERATURAN WALIKOTA (PERWALI) KOTA PALU NOMOR 1 TAHUN 2023 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG TAHUN 2023-2024

Rizki Cholik Zulkarnain. (2016). Pengaruh Perubahan Tutupan Lahan Terhadap Perubahan Terhadap Perubahan Suhu Permukaan di Kota Surabaya. Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Umar, R., Abidin, M. R., Nur, R., Atjo, A. A., Liani, A. M., Yanti, J., & Utama, I. M. (2022). Penentuan Prioritas Ruang Terbuka Hijau Menggunakan Metode Weighted Overlay. Jurnal Geosains Dan Remote Sensing, 3(2), 88–94.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG.

Sangkertadi, S., Syafriny, R., Surianjo, H., & Imran, M. (2022). An Approximate Calculation for Understanding Relation of Urban Spatial Regulation and UHI With Case of Tropical Cities . 1–13.

Wahyuningtyas, A. R. (2022). Metode Koreksi Bias Quantile Mapping untuk Proyeksi Temperature Humidity Index dibawah Skenario Perubahan Iklim. Universitas Muhammadiyah Semarang

Downloads

Published

2025-06-21

How to Cite

Patawari, F., Sembel, A., & Warouw, F. (2025). Prioritas Peruntukan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Distribusi Suhu Permukaan di Kota Palu. MEDIA MATRASAIN, 22(1), 40–53. https://doi.org/10.35793/matrasain.v22i1.62232

Most read articles by the same author(s)

1 2 > >>