Sarang Tidur Tangkasi (Tarsius spectrumgurskyae) dan Potensial Pengembangan Tarsier-Watching di Hutan Lindung Tanjung Pulisan

Authors

DOI:

https://doi.org/10.35791/sil.v4i2.58147

Abstract

Sebagai wilayah pengembangan pariwisata Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Hutan Lindung Tanjung Pulisan, tarsius atau yang dikenal sebagai tangkasi dapat dijadikan sebagai daya tarik. Oleh karenanya, diperlukan perancangan wisata untuk tujuan pengembangan wisata Tarsier Watching. Didahului dengan kegiatan inventarisasi sarang tidur tangkasi dengan menggunakan metode survey untuk menemukan sarang tidur tangkasi dan observasi secara langsung pada senja dan subuh untuk mendata aktivitas dan suara tangkasi. Kemudian karakteristik sarang tidur tangkasi dan aktivitasnya di Hutan Lindung Tanjung Pulisan dapat dideskripsikan. Di Hutan Lindung Tanjung Pulisan ditemukan 3 sarang tangkasi (Tarsius spectrumgurskyae) dengan 1-4 individu di setiap sarang tidur. Penyusun dari setiap sarang adalah lubang pada pohon ficus dengan diameter pohon berkisar pada 126,1 - 202,4 cm dan ketinggian lubang sarang pada 2,5 - 7 m. Sarang tangkasi ditemukan pada elevasi 110 - 170 m dengan kemiringan lereng 24,9 - 36,4% dengan kondisi lingkungan intensitas cahaya rata-rata 35,34, 48,33, dan 38,2 W/m2; rata-rata suhu udara 26,7, 28,2 dan 26,4 °C; dan rata-rata kelembaban udara 88,9, 84, dan 94,9% berturut-turut pada pagi, siang dan sore hari. Aktivitas tangkasi dengan porsi paling tinggi sebelum keluar dari area sarang adalah patrolling yaitu 46,34%, sedangkan sebelum masuk sarang adalah aktivitas surveilling yaitu 50,03%. Suara tangkasi lebih dominan terdengar pada subuh pukul 04.00-06.00. Aktivitas tangkasi yang tersedia untuk objek wisata adalah surveilling pada sore pukul 17:59:23-18:57:18 dan pagi pukul 05:19:42-05:46:01.

Published

2025-08-30

Issue

Section

Artikel

Categories

Most read articles by the same author(s)

1 2 3 4 > >>