Initial Handling Of Tuna As Raw Material For Canned Fish

Authors

  • Handri Badoa Universitas Sam Ratulangi
  • Jenki Pongoh Universitas Sam Ratulangi
  • Hens Onibala Universitas Sam Ratulangi
  • Eunike L. Mongi Universitas Sam Ratulangi
  • Josefa Tety Kaparang Universitas Sam Ratulangi
  • Daisy Monica Makapedua Universitas Sam Ratulangi

DOI:

https://doi.org/10.35800/jpkt.v12i1.50727

Keywords:

Fresh Tuna;, Frozen Tuna;, Histamine;, Sensory;

Abstract

This study aims to determine histamine levels and organoleptic results from fresh tuna and frozen tuna. The data obtained are presented in the form of histograms and tables are then discussed. The results showed that histamine levels in 3 fresh tuna samples, namely S1, S2, and S3 samples, were below 30 ppm. 3 samples of frozen tuna, namely samples B1, B2, and B3, are also below 30 ppm which is the standard set by the company. This shows that samples from fresh tuna have a lower amount of histamine levels than frozen tuna, so they still meet the export standards of the Food and Drugs Administration (FDA) which is 50 ppm (FDA, 2011) and meet the Indonesian National Standard, SNI 2729: 2013 (BSN, 2013) which is a maximum of 100 ppm. For organoleptic results on 3 samples of fresh tuna and frozen tuna, namely samples 1, 2, and 3 showed organoleptic results from the appearance of the eyes, gills, appearance of body surface mucus, organoleptic results of meat, organ results of odor, organoleptic results of texture have a good value . This shows that samples from fresh tuna and frozen tuna are of good quality and still meet the Indonesian National Standard (SNI 2729:2013) regarding sensory criteria in fish.

Keywords: Fresh Tuna, Frozen Tuna, Histamine, Sensory

Abstrak

Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar histamin dan hasil organoleptik dari ikan tuna segar dan ikan tuna beku. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk histogram dan tabel kemudian dibahas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar histamin pada 3 sampel ikan tuna segar yaitu sampel S1, S2, dan S3 dibawah 30 ppm. 3 sampel ikan tuna beku yaitu sampel B1, B2, dan B3 juga dibawah 30 ppm yang merupakan standar yang ditetapkan perusahaan. Hal ini menunjukan bahwa sampel dari ikan tuna segar memiliki jumlah kadar histamin yang lebih rendah dari pada ikan tuna beku, sehingga masih memenuhi standar ekspor dari Food and  Drugs Administration (FDA) yaitu 50 ppm (FDA, 2011) dan memenuhi Standar Nasional Indonesia, SNI 2729:2013 (BSN, 2013) yaitu maksimal 100 ppm. Untuk hasil organoleptik pada 3 sampel ikan tuna segar dan ikan tuna beku yaitu sampel 1, 2, dan 3 menunjukan hasil organoleptik dari kenampakan mata, insang, kenampakan lendir permukaan badan, hasil organoleptik daging, hasil organoleptik bau,  hasil organoleptik tekstur memiliki nilai yang baik. Hal ini menunjukan bahwa sampel dari ikan tuna segar dan ikan tuna beku  memiliki kualitas baik dan masih memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI 2729:2013) tentang kriteria sensori pada ikan.

Kata Kunci:  Tuna Segar, Tuna Beku, Histamin, Sensori

References

Adawyah, R. 2007. Pengolahan dan Pengawetan Ikan.BumiAksara. Jakarta. Jurnal Satya Minabahari, 03

(02), 2018, 94-104

Badan Standarisasi Nasional. 2013. Standar Mutu Ikan Segar. SNI No. 2729:2013. Badan Standarisasi Nasional. Jakarta.

[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2006. SNI 01-2712.2-2006: Ikan Tuna DalamKaleng-Bagian 2: PersyaratanBahan Baku. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional. DiGregorio, R. (2012). Tuna Grading and Evaluation : The complete Tuna Buyer’s Handbook (M. Zicarellu (ed.)). Urner Barry.

Du, W. X., Lin, C. M., Phu, A. T., Cornell, J. A., Marshall, M. R., & Wei, C. I. (2002). Development of biogenic amines in Tuna siripkuning (Thunnus albacares): Effect of storage and correlation with decarboxylase-positive bacterial flora. Journal of Food Science, 67 (1), 292–301.

[FAO] Food and Agriculture Organization/[WHO] World Health Organization. (2012). Joint FAO/WHO Expert Meeting on the Public Health Risks of Histamine and Other Biogenic Amines from Fish and Fishery Products. FAO/WHO.

[FDA] U.S. Food and Drug Administration. (2011). Scombrotoxin

(histamine)formation.FishandFisheryProductsHazardsandControlGuide.Washingthon:

Department of Health and Human Service, Center for FoodSafetyand Applied Nutrition. 113.

Fawzya, YN. Murniyati dan Suryaningrum TD. 2011. Persyaratan Pengolahan Produk Perikanan. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan. Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Suryanto, M. R., dan Sipahutar, Y. H. (2019). Penerapan GMP dan SSOP pada PengolahanUdangPutih (Litopenaeusvannamei) Peeled Deveined Tail On (PDTO) MasakBeku di Unit Pengolahan Ikan Banyuwangi. In Prosiding Seminar Kelautan Dan PerikananKe VII P.

Siburian, E. T. P., Dewi, P., Kariada, N. 2012. Pengaruh Suhu dan Waktu Penyimpanan Terhadap Pertumbuhan Bakteri dan Fungi Ikan Bandeng. UnnesJournal of Life Science.1(2):102–105.

Downloads

Published

2023-07-31

How to Cite

Badoa, H., Pongoh, J., Onibala, H., Mongi, E. L., Kaparang, J. T., & Makapedua, D. M. (2023). Initial Handling Of Tuna As Raw Material For Canned Fish. JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS, 12(1), 35–43. https://doi.org/10.35800/jpkt.v12i1.50727

Most read articles by the same author(s)

1 2 > >>