Edukasi Pelestarian Satwa Endemik Kepada Siswa-Siswi di Kelurahan Sagerat Kota Bitung Sulawesi Utara
DOI:
https://doi.org/10.35801/tsss.v7i2.64096Keywords:
Edukasi, Pelestarian, Satwa Endemik, SageratAbstract
Satwa endemik adalah hewan yang secara alami hanya ditemukan dan hidup di wilayah geografis yang sangat terbatas. Satwa endemik di Sulawesi dimanfaatkan oleh sebagian orang sebagai bahan pangan dan dijadikan hewan peliharaan serta diperdagangkan antar daerah, pulau dan negara secara ilegal. Kelurahan Sangerat di Kota Bitung sangat dekat dengan pelabuhan Bitung yang memungkin akan terjadi praktik penyeludupan satwa liar. Siswa-siswi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) dan Sekolah Menegah Pertama (SMP 6) Sagerat Kota Bitung adalah generasi penerus yang bertanggungjawab untuk menjaga bumi dari ketidakseimbangan ekosistem. Tujuan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yaitu mengedukasi 27 orang siswa-siswi yang ada di SDN dan 24 orang siswa-siswi SMPN 6 tentang pentinggnya melestarikan atau melindungi satwa endemik di Sulawesi. Metode yang digunakan ceramah dan demonstrasi. Hasil evaluasi awal menunjukkan bahwa tidak semua siswa mengetahui jenis satwa yang didemonstrasikan dalam bentuk Xbanner. Hanya tiga orang siswa SDN Sagerat atau 12,5 % yang mengetahui dan melihat secara langsung salah satu satwa yaitu monyet hitam sebagai satwa endemik Sulawesi, dan satu orang siswa (4,1%) sering mengkonsumsi daging satwa liar. Sedangkan di SMPN Sagerat diketahui satu siswa (3,7%) yang sering memburu satwa yaitu kelelawar. Pada umumnya siswa-siswa SDN dan SMPN 6 hanya melihat satwa-satwa endemik dari gambar atau media sosial. Hasil evaluasi akhir melalui tanya jawab yang dilakukan di depan kelas pada akhir kegiatan diketahui bahwa siswa-siswi mendapatkan pengetahuam baru satwa endemik sulawesi dan perannya di alam.
References
Anonim. (2021). Pelabuhan Bitung jalur penyeludupan tmbuhan dan atwa liar. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara. https://manado.tribunnews.com/2021/12/19/bksda-sulut-pelabuhan-bitung-jalur- penyelundupan-tumbuhan-dan-satwa-liar
Benítez-López A, Santini L, Schipper AM, Busana M, Huijbregts MAJ. (2019). Intact but empty forests? Patterns of hunting-induced mammal defaunation in the tropics. PLoS Biol. 2019 May 14;17(5):e3000247. DOI: 10.1371/journal.pbio.3000247.
Challender DWS, Harrop SR, Mac Millan DC. (2015). Understanding markets to conserve trade-threatened species in CITES. Biological Conservation 187: 249-259. DOI: 10.1016/j.biocon.2015.04.015.
Latinne A., Saputro, S., Kalengkongan, J., Kowel, C.L., Gaghiwu, L., Ransaleleh, T.A., Nangoy, M.J. Wahyuni, I., Kusumaningrum,T., Safari,D., Feferholtz,Y., Hongying Li, Hagan, E., Miller,M., Francisco,L., Daszak,P., Olival, K.J., Pamungkas, J. (2020). Characterizing and quantifying the wildlife trade network in Sulawesi, Indonesia. Glob ecol conserv 21 :1-8. Doi : 10.1016/J.GECCO 2019.E00887.
Nafsyah S.S. (2020). Kembalikan satwa endemik Indonesia. Forest digest, https://www.forestdigest.com/detail/696/kembalinya-satwa-endemik-indonesia.
Ramirez-Francel LA, Garcia-Herrera LV, Losada-Prado S, Reinoso-Florez G, Sanchez- Hernandez A, Estrada-Vilagas S, Lim BK, Guevara G. (2021). Bats and their vital ecosystem services: a global review. Integrative Zoologi 17:2-23. DOI:10.1111/1749-4877.12552.
Ransaleleh T.A., I. Wahyuni, J. Onibala. C. Umboh. (2023). Penyadartahuan peran satwa liar sebagai satwa harapan kepada anak-anak sekolah dasar di desa Pakuure Kabupaten Minahasa Selatan Sulawesi Utara. Bakira 4(2):68-77.
Ransaleleh T.A., I. Wahyuni,M.J. Nangoy, M. Kawatu. (2019). PKM budi daya kelelawar di desa Boyong AtasKecamatan tenga kabupaten Minahasa Selatan. Jurnal MIPA 8(3):138-142.
Ransaleleh T.A., I.Wahyuni, G. Assa. (2024). Pendampingan teknik budidaya kelelawar kepada kelompok pemburu dan pedagang daging kelelawar di Modoinding kabupaten Minahasa Selatan. The studies of social sciences 6(2): 50-58.
Ransaleleh T.A., Nangoy, M.J., Wahyuni,I., Lomboan,A., Koneri, R., Saputro,S., Pamungkas,J., Latinne, A. (2020). Identification of bats on traditional market in Dumoga district, North Sulawesi. IOP Conf.Ser: Earth Environ Sci 473 : 012067.
Ransaleleh,T.A., Wahyuni, I., Rotinsulu, M.D., Nangoy, M.J., Lomboan, A., Onibala, J., Laatung, S., Kalangi, L.S., Saputro, S., Wiantoro,S. (2025). The bushmeat trade in traditional markets in North Sulawesi, Indonesia. Biodiversitas. 26 ( 4) : 1929-1939. DOI: 10.13057/biodiv/d260442
Stewart AB, Srilopan S, Wayo K, Hassa P, Dudash MR, Bumrungsri. (2024). Bat pollinators: a decade of monitoring reveals declining visitation rates for some species in Thailand. Zoological Letters 10(5):1-9 (2024). DOI: 10.1186/s40851- 024-00228-x.
Suwannorang K, Schuler S. (2016). Bat consumtion in Thailand. Infect Ecol Epidem 6:29941. DOI:10.3402/iee.v6.29941.
Symes WS, Edwards DP, Miettinen J, Rheindt FE, Carrasco LR. (2018). Combined impacts of deforestation and wildlife trade on tropical biodiversity are severely underestimated. Nat Commun 3;9(1):4052. Doi: 10.1038/s41467-018-06579-2. PMID: 30283038; PMCID: PMC6170487
Waloni G. (2024). Dari Bitung ke Papua: 148 satwa dilindungi pulang ke habitat asli. Lingkungan dan Konservasi. https://zonautara.com/2024/12/09/dari-bitung-ke- papua-148-satwa-dilindungi-pulang-ke-habitat-asli/
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License (CC BY-SA 4.0) that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Manuscripts published in print and electronically are open access for the purposes of education, research, and libraries. Apart from these purposes, the editorial board is not responsible for violations of copyright law.




1.gif)